Utang RI Tembus Rp9.920 Triliun, Menkeu Purbaya: “Bandingkan dengan Singapura dan Jepang, Kita Sangat Aman”

Kinerja fiskal pemerintah dan Purbaya Yudhi Sadewa mulai disorot menyusul potensi pelebaran defisit APBN dan tekanan ekonomi global. (Dok: Rosadi Jamani)
Kinerja fiskal pemerintah dan Purbaya Yudhi Sadewa mulai disorot menyusul potensi pelebaran defisit APBN dan tekanan ekonomi global. (Dok: Rosadi Jamani)

Faktakalbar.id, NASIONAL – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pasang badan terkait kenaikan angka utang pemerintah Indonesia yang kini hampir menyentuh level psikologis Rp10.000 triliun.

Meski secara nominal melonjak, Purbaya menegaskan bahwa kesehatan fiskal Indonesia justru jauh lebih baik dibandingkan banyak negara maju dan tetangga di Asia Tenggara.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), posisi utang pemerintah per 31 Maret 2026 berada di angka Rp9.920,42 triliun, naik signifikan dari posisi Desember tahun lalu yang sebesar Rp9.637,9 triliun.

Angka ini mencerminkan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 40,75%.

Fokus pada Rasio, Bukan Nominal

Menkeu Purbaya meminta masyarakat dan pengamat untuk tidak terjebak pada “ketakutan nominal”.

Menurutnya, indikator sahih kesehatan ekonomi sebuah negara adalah rasio utang terhadap PDB.

“Kalau kita lihat acuan yang paling ketat di Eropa, rasio utang ke PDB berapa? 60 persen. Kita masih jauh,” ujar Purbaya saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (11/5).

Ia menambahkan bahwa jika dibandingkan secara internasional, posisi Indonesia tergolong sangat konservatif dan berhati-hati.

“Singapura berapa? 180 persen. Malaysia 60 persen lebih, Thailand juga tinggi semua. Kita termasuk paling hati-hati dibanding negara-negara sekitar kita, dibanding Amerika juga, dibanding Jepang apalagi (yang mencapai) 275 persen,” tuturnya.

Analogi Perusahaan: Utang untuk Ekspansi