Faktakalbar.id, LUWU TIMUR – Bencana banjir di Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, menerjang kawasan permukiman penduduk dan area pertanian pada Jumat (8/5/2026) sekitar pukul 10.00 WITA.
Merespons kejadian hidrometeorologi tersebut, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Timur langsung diterjunkan untuk memantau tinggi muka air di daerah terdampak yang berpusat di Desa Balo-Balo, Kecamatan Wotu.
Baca Juga: Jembatan Desa Tebuah Elok Miring Dihantam Banjir, Bupati Sambas Siapkan Perbaikan
Berdasarkan laporan dari Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana ini dipicu secara langsung oleh tingginya curah hujan yang mengakibatkan debit air Sungai Balo-Balo meluap hebat. Luapan air sungai tersebut langsung merangsek masuk dan merendam rumah-rumah warga serta puluhan hektare lahan mata pencaharian penduduk di desa tersebut.
Hasil kaji cepat yang dilakukan oleh personel BPBD Kabupaten Luwu Timur di lokasi kejadian mencatat kerugian di berbagai sektor. Sedikitnya terdapat enam Kepala Keluarga (KK) yang rumah kediamannya terendam langsung oleh air luapan sungai. Sementara itu, dampak paling parah menghantam sektor agraris setempat.
Seluas 80 hektare lahan persawahan milik warga dilaporkan tenggelam oleh genangan banjir. Selain itu, genangan air juga merusak 10 hektare area perkebunan kelapa sawit serta 10 hektare tambak perikanan yang menjadi tumpuan ekonomi warga Desa Balo-Balo.
Berkat upaya penanganan dan monitoring ketinggian air yang dilakukan secara intensif oleh tim gabungan di lapangan, kondisi banjir di Luwu Timur dilaporkan telah surut sepenuhnya pada Minggu (10/5/2026). Warga setempat kini mulai melakukan pembersihan material lumpur sisa banjir di rumah maupun area pertanian mereka.
Menyikapi rentetan kejadian bencana di masa transisi iklim ini, BNPB mengimbau seluruh elemen pemerintah daerah dan masyarakat luas untuk tidak menurunkan tingkat kewaspadaan. Memasuki periode peralihan musim dari penghujan menuju kemarau, anomali cuaca sangat rentan terjadi. Hujan dengan intensitas lebat dalam durasi yang sangat singkat berpotensi besar memicu terjadinya banjir genangan, tanah longsor, dan terjangan angin kencang.
















