Sinergi Kayu untuk Ketahanan Pangan dan Ekonomi Mandiri

"sinergi-kayu-ketahanan-pangan-ekonomi-mandiri"
Foto bersama para pembicara dan peserta Seminar Nasional MAPEKI ke-XXVIII di Lombok, Sabtu, (20/9/2025). (Dok. Gusti to Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, NASIONAL – Di tengah dinamika global yang serba tidak pasti, kita kerap melupakan satu potensi dasar yang sebenarnya dekat dengan keseharian: kayu dan industri berbasis kayu.

Selama ini, kayu sering dipandang hanya sebagai bahan bangunan atau furnitur, padahal lebih dari itu, ia mampu menopang ketahanan pangan dan bahkan kemandirian ekonomi bangsa.

Inilah yang menjadi esensi dari Seminar Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) ke-XXVIII yang digelar di Universitas Mataram, Lombok, (20/9/2025).

Tema yang diangkat, “Sinergi Inovasi Teknologi Kayu dan Industri Menuju Ketahanan Pangan dan Kemandirian Ekonomi Nasional”, terasa amat relevan di tengah tantangan krisis pangan, energi, dan ekonomi saat ini.

Baca Juga: Inovasi Hijau Mahasiswa Magister Fakultas Kehutanan UNTAN di Hutan Sarawak

Ilmu, Industri, dan Arah Baru

Acara dibuka dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Pertanian UNRAM dan Ketua MAPEKI. Kehadiran para tokoh nasional sebagai pembicara kunci memberikan bobot penting pada pertemuan ini.

Seorang Guru Besar dari Universitas Hasanuddin menekankan pentingnya inovasi material kayu dalam menopang pembangunan berkelanjutan. Kayu tidak hanya soal mebel, tetapi dapat hadir dalam bentuk biokomposit, panel bambu sandwich, hingga bioenergi.

Peneliti dari BRIN menyoroti peran riset kebijakan dalam mendorong hilirisasi kayu dan hasil hutan non-kayu agar masuk ke rantai industri global.

Sementara itu, seorang perwakilan dari Sinarmas Forestry memberikan perspektif industri, yaitu bagaimana riset dan pengembangan (R&D) serta genetika pohon dapat melahirkan kayu unggul yang siap bersaing.

Ketiga perspektif ini ibarat segitiga emas: akademisi, peneliti, dan industri. Sinergi ketiganya adalah kunci untuk menjadikan kayu sebagai tulang punggung kemandirian ekonomi.

Baca Juga: Fakultas Kehutanan Untan Gandeng Swasta, Perkuat Konservasi dan Pemberdayaan SDM Lokal bersama PT Mayawana Persada

Ruang Ilmiah yang Menghidupkan

Setelah sesi pleno, peserta disebar ke berbagai kelas paralel yang membahas biokomposit, sifat kayu, nanoteknologi,  pulp & kertas, hingga bidang umum kehutanan.

Di ruang biokomposit, diskusi tentang panel bambu rekayasa memantik ide bahwa bambu bisa menggantikan baja ringan dalam konstruksi.

Di ruang nanoteknologi, riset minyak tengkawang tampil sebagai bukti bahwa sumber daya Kalimantan bisa menjadi bahan baku kosmetik alami yang ramah lingkungan.

Tidak kalah menarik, di ruang kehutanan umum muncul pembahasan mengenai agroforestri, ekowisata, hingga konservasi mangrove.

Dari Kalimantan Barat, misalnya, sebuah penelitian menunjukkan bagaimana deforestasi memengaruhi karakteristik sungai di Daerah Aliran Sungai (DAS) Duri.