Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Di bawah rindangnya hutan Bako, Sarawak, kolaborasi unik terjalin. Mahasiswa S2 Ilmu Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) bersama rekan-rekan dari Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) dan masyarakat lokal Bako bergandeng tangan dalam sebuah kegiatan yang sederhana namun penuh makna: Ecoprint Training from Natural Plants.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) Global. Melalui karya nyata ini, mahasiswa S2 Kehutanan UNTAN membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat berpadu dengan seni, tradisi, dan pemberdayaan masyarakat.
Ecoprint: Jejak Daun, Jejak Harapan
Ecoprint adalah teknik cetak alami menggunakan daun, bunga, dan bagian tanaman lain untuk menghasilkan motif pada kain atau media lainnya. Tidak ada pewarna sintetis dan limbah beracun hanya keindahan yang dipinjam dari alam.
Baca Juga: Menyatukan Ilmu, Masyarakat, dan Alam: Jejak BoSAN UNIMAS–UNTAN 2025
Ecoprint dinilai penting karena prosesnya ramah lingkungan, tidak mencemari air dan tanah, berbeda dengan pewarna kimia tekstil. Selain itu, produk ecoprint memiliki nilai tambah di pasar kreatif dan dapat menjadi identitas lokal dengan motif khas Borneo, seperti daun mangrove dan pakis.
Dengan mengajarkan teknik ini kepada masyarakat Bako, mahasiswa S2 Kehutanan UNTAN tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga membangun jembatan menuju kemandirian ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal.
Suara Mahasiswa, Suara Masyarakat
Salah satu mahasiswa S2 Ilmu Kehutanan UNTAN menuturkan pengalamannya.
“Kami belajar tidak hanya tentang teknik ecoprint, tetapi juga bagaimana masyarakat lokal mengajarkan kami nilai kesabaran dan kebersamaan. Ilmu kehutanan menjadi nyata ketika kami bisa duduk bersama ibu-ibu Bako, menempelkan daun, dan melihat senyum mereka saat motif pertama muncul di kain,” ungkapnya, Sabtu, (13/9).
Sementara itu, seorang ibu peserta pelatihan menyampaikan dengan penuh semangat.
“Selama ini kami tahu daun hanya untuk masakan atau obat tradisional. Tidak pernah terpikir bisa jadi kain yang cantik. Dengan ecoprint, kami merasa punya sesuatu yang bisa dijual tanpa harus merusak hutan.”
Testimoni sederhana ini memperlihatkan bahwa *ecoprint* bukan hanya keterampilan teknis, melainkan jembatan yang mempertemukan ilmu kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Mahasiswa S2 UNTAN: Agen Inovasi Hijau
Ada pesan kuat dari kegiatan ini: mahasiswa pascasarjana bukan sekadar peneliti, tetapi juga penggerak inovasi sosial.
















