Antisipasi Krisis Global, Cadangan Beras Pemerintah di Bulog Tembus Rekor 4,7 Juta Ton

"Merespons ancaman krisis pangan akibat ketegangan geopolitik, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog mencatatkan rekor tertinggi mencapai 4,7 juta ton."
Merespons ancaman krisis pangan akibat ketegangan geopolitik, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog mencatatkan rekor tertinggi mencapai 4,7 juta ton. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, NASIONAL  – Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta gangguan jalur logistik internasional memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga dan pasokan pangan global.

Di tengah ketidakpastian perdagangan dunia tersebut, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog mencatatkan angka ketersediaan tertinggi dalam sejarah, yakni menembus 4,7 juta ton.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut angka cadangan tersebut masih terus bergerak naik menuju target 5 juta ton.

Penguatan stok di gudang Bulog ini merupakan satu dari tiga lapisan pengaman ketahanan pangan nasional saat ini.

Baca Juga: erang Iran Memanas: 40 Fasilitas Energi di Timur Tengah Rusak Parah, Pasokan LNG Global Anjlok 20 Persen

Selain CBP, ketersediaan beras di pasar domestik dan sektor HoReCa (Hotel, Restoran, dan Katering) tercatat berada di angka 12 juta ton.

Volume ini belum termasuk proyeksi tambahan produksi dari tanaman yang masih berada di lahan (standing crop) hingga akhir tahun.

“Sejak awal, Bapak Presiden sudah menekankan pentingnya swasembada dan penguatan cadangan pangan. Ini menjadi langkah strategis untuk menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian,” ungkap Amran dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/4).

Dengan lapisan ketersediaan pangan tersebut, pasokan beras domestik diproyeksikan aman untuk mencukupi kebutuhan nasional hingga 11 bulan ke depan.

Amran menilai langkah penumpukan cadangan ini sebagai respons antisipatif yang mutlak diperlukan untuk melindungi pasar dalam negeri.

“Cadangan kita saat ini 4,7 juta ton dan terus menuju 5 juta ton. Dengan posisi ini, kebutuhan pangan kita cukup hingga 11 bulan ke depan. Ini adalah bentuk kesiapan Indonesia dalam menghadapi potensi krisis pangan global,” tegasnya.

Kerentanan rantai pasok global saat ini memaksa setiap negara untuk melepaskan ketergantungan pada impor.

Pembatasan kuota ekspor secara sepihak oleh negara-negara produsen pangan dapat memukul negara yang tidak memiliki cadangan mandiri.