Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Saat sedang marah atau stres berat, setiap orang memiliki mekanisme koping (coping mechanism) yang berbeda-beda.
Ada yang memilih tidur, mendengarkan musik keras, atau bahkan berteriak.
Namun, pernahkah Anda menyadari bahwa beberapa orang justru memilih melarikan diri ke dapur dan mulai memasak saat emosi mereka sedang tidak stabil?
Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah culinary therapy atau terapi kuliner. Memasak ternyata bukan sekadar aktivitas domestik untuk mengenyangkan perut, melainkan sebuah pelampiasan emosi yang sangat sehat.
Baca Juga: Mengungkap Kepribadian, Ini 5 Karakter yang Bisa Kamu Baca dari Seseorang yang Senang Memasak
Jika Anda penasaran, berikut adalah 5 alasan mengapa memasak dapat menjadi saluran yang efektif untuk menghempaskan amarah:
1. Menyalurkan Agresi Fisik Secara Positif
Amarah sering kali memicu tumpukan energi fisik yang menuntut untuk dilepaskan.
Daripada membanting barang atau merusak fasilitas, energi agresif ini bisa disalurkan secara produktif di dapur.
Gerakan repetitif dan membutuhkan tenaga seperti menguleni adonan roti (kneading), menumbuk bumbu, atau memotong daging tebal bisa menjadi cara pelepasan agresi fisik yang aman dan sah.
2. Mengembalikan Kendali Diri (Sense of Control)
Salah satu pemicu stres dan amarah terbesar adalah perasaan kehilangan kendali atas suatu situasi, entah itu karena pekerjaan atau konflik dengan orang lain.
Memasak menawarkan hal yang sebaliknya.
Di dapur, Anda memiliki kendali penuh secara mutlak.
Anda yang menentukan seberapa banyak garam yang ditaburkan, seberapa besar ukuran potongan sayur, dan kapan api harus dimatikan.
Perasaan memegang kendali ini secara psikologis akan menenangkan pikiran.
3. Menciptakan Mindfulness Lewat Indera
Memasak memaksa Anda untuk hadir secara utuh pada momen saat ini (mindfulness).
Aktivitas ini melibatkan hampir seluruh pancaindera.
Aroma bawang putih yang ditumis, suara mendesis (sizzling) dari daging yang menyentuh wajan panas, hingga tekstur tepung di tangan akan menarik fokus otak Anda dari masalah yang memicu amarah dan memindahkannya ke proses yang sedang terjadi di depan mata.
4. Menghasilkan Imbalan Instan (Instant Gratification)
Ketika Anda menyelesaikan sebuah masakan, ada kepuasan instan yang langsung Anda dapatkan.
Melihat bahan-bahan mentah yang acak berubah menjadi sebuah hidangan matang yang lezat memberikan suntikan hormon dopamin (hormon bahagia) di dalam otak.
Pencapaian kecil yang bisa langsung dinikmati ini sangat ampuh untuk memperbaiki suasana hati (mood).
5. Bentuk Perhatian pada Diri Sendiri (Self-Care)
Memilih untuk memasak makanan yang enak dan bergizi saat sedang marah adalah bentuk cinta dan perhatian pada diri sendiri.
Alih-alih merusak diri dengan minuman keras atau kebiasaan buruk lainnya saat stres, Anda justru sedang memberikan nutrisi yang baik untuk tubuh Anda.
Jadi, jika hari ini Anda sedang merasa kesal, marah, atau penat dengan rutinitas, cobalah ambil pisau, siapkan talenan, dan mulailah berkreasi di dapur.
Amarah Anda akan mereda, dan perut Anda pun akan kenyang!
(Mira)
















