Ada pula gagasan tentang edutourism arboretum di Pontianak sebagai destinasi healing dan edukasi yang inovatif.
Suara dari Peserta
Seorang mahasiswa doktoral dari Sulawesi Selatan berkomentar;
“Saya baru menyadari betapa kayu tidak hanya soal furnitur. Di sini saya melihat kayu bisa masuk ke pangan, energi, bahkan kosmetik. Paradigma saya berubah total.”
Sementara itu, seorang praktisi industri dari Jawa Barat menyampaikan kesannya;
“Seminar ini memberi gambaran konkret bagaimana hasil riset bisa langsung masuk ke dapur industri. Kami butuh jembatan seperti ini.”
Dari kalangan akademisi, seorang dosen muda menambahkan;
“MAPEKI adalah rumah kedua bagi peneliti kayu. Di sini, kami bukan hanya berbagi data, tetapi juga membangun jejaring lintas daerah dan lintas generasi.”
Suara-suara ini menggambarkan betapa MAPEKI tidak sekadar forum ilmiah, melainkan juga ruang silaturahmi intelektual dan profesional.
Baca Juga: Tim Investigasi Dukung Universitas dan Fakultas Tindak Lanjuti Kebocoran Hasil Investigasi
Pesan Kemandirian
Ada pesan kuat yang mengemuka: Indonesia tidak boleh terus-menerus bergantung pada impor bahan pangan dan produk industri.
Kayu dan turunannya adalah aset strategis. Jika dikembangkan dengan inovasi, ia bisa menjadi bahan baku pupuk organik, media tanam jamur, pakan ternak, hingga bioenergi.
Dengan demikian, ketahanan pangan bukan hanya soal sawah dan ladang, tetapi juga hutan dan hasil hutan.
Begitu pula dengan kemandirian ekonomi: ia lahir ketika kita mampu mengolah sumber daya lokal dengan nilai tambah tinggi.
Lombok sebagai Inspirasi
Lokasi seminar di Lombok juga memberi inspirasi tersendiri. Pulau ini dikenal dengan kearifan lokal masyarakatnya dalam memanfaatkan bambu dan kayu untuk rumah tradisional hingga kerajinan.
Ekskursi peserta ke Desa Sade dan Mandalika seolah menjadi pembelajaran lapangan tentang bagaimana kearifan lokal bisa berjalan seiring dengan inovasi modern.
Mengikat Masa Depan
Dari seluruh rangkaian acara, satu hal jelas: MAPEKI bukan sekadar forum akademik tahunan, melainkan tonggak untuk mengikat masa depan industri kayu Indonesia.
Di era di mana dunia berteriak tentang krisis iklim, transisi energi, dan kebutuhan pangan berkelanjutan, Indonesia sesungguhnya punya jawaban lewat hutan dan kayunya.
Yang dibutuhkan adalah sinergi inovasi, kemauan politik, dan keberanian industri untuk melangkah lebih jauh.
Sebagai penulis dan Ketua ICMI Orwil Kalbar, saya melihat momentum MAPEKI ke-28 di Lombok ini sebagai panggilan kebangsaan.
Mari kita jadikan riset kayu bukan sekadar tumpukan kertas di rak perpustakaan, tetapi nyata masuk ke kebijakan, industri, dan kehidupan sehari-hari rakyat.
Ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi nasional bukanlah slogan kosong. Ia bisa berakar pada hutan, bertumbuh lewat inovasi kayu, dan berbuah pada kesejahteraan bangsa.
(*Red/Gusti Hardiansyah Berkontribusi Dalam Penulisan ini)
















