Bukan Sekadar Seremoni Musiman, Mahasiswa Ingatkan Perjuangan Kesetaraan Perempuan Belum Usai

"Perayaan telah berlalu, namun perjuangan belum selesai. Aktivis mahasiswa ingatkan pentingnya keberanian moral untuk terus melawan ketimpangan dan diskriminasi perempuan."
Perayaan telah berlalu, namun perjuangan belum selesai. Aktivis mahasiswa ingatkan pentingnya keberanian moral untuk terus melawan ketimpangan dan diskriminasi perempuan. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, PONTIANAK – Gaung seremoni pahlawan emansipasi mungkin telah berlalu seiring bergantinya lembaran kalender.

Namun, substansi dari perjuangan menuntut kesetaraan hak perempuan di berbagai sektor kehidupan tak boleh ikut meredup.

Isu ketimpangan sosial, diskriminasi, hingga pembatasan ruang gerak masih menjadi realita pahit yang membuktikan bahwa jalan menuju keadilan gender belumlah usai.

Menyikapi fenomena tersebut, aktivis mahasiswa, Indah Allawiyah, menyoroti pentingnya merawat nalar kritis terhadap kondisi sosial yang masih membelenggu perempuan.

Baca Juga: Aturan Setara Gender Sudah Lengkap, Implementasi Hukum Perempuan Dinilai Masih Tersandung Kultur

Ditemui pada Rabu (22/4), ia merenungkan kembali bagaimana fondasi emansipasi dibangun di atas perlawanan terhadap sistem yang menindas.

“Kita sama-sama tahu posisi Kartini saat itu sebagai perempuan tentu sangat terbatas. Namun melalui pemikirannya, ia berani melawan ketimpangan sosial, belum lagi dalam hal pendidikan dan posisi perempuan,” ujarnya mengingatkan kembali esensi dari pendobrakan budaya patriarki di masa lalu.

Indah menegaskan bahwa generasi masa kini, yang perlahan mulai bisa mengecap kebebasan berpendidikan dan berkarir, tidak selayaknya terbuai oleh pencapaian semu.

Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak perempuan yang termarginalkan akibat status sosial dan ekonomi.

“Kita saat ini yang telah menikmati perjuangan Kartini tentu tidak boleh terlena. Karena bicara perjuangan Kartini tidak akan pernah selesai jika masih ada ketimpangan, pendiskriminasian, dan ketidakadilan antar lapisan masyarakat,” tambahnya secara tegas.

Lebih jauh, ia memaparkan bahwa tanggung jawab mengentaskan ketidakadilan ini salah satunya berada di pundak mahasiswa.

Sebagai agen perubahan (agent of change), pergerakan mahasiswa tidak boleh pragmatis.

Diperlukan napas panjang dan keteguhan prinsip untuk mendobrak sistem yang diskriminatif.