Membedah Makna Lagu Sesi Potret: Refleksi Psikologis tentang Luka Dukacita dan Penyesalan

"Membedah makna lagu Sesi Potret karya Enau ft. Ari Lesmana. Sebuah refleksi psikologis tentang luka dukacita, penyesalan, dan beratnya mengikhlaskan keluarga."
Membedah makna lagu Sesi Potret karya Enau ft. Ari Lesmana. Sebuah refleksi psikologis tentang luka dukacita, penyesalan, dan beratnya mengikhlaskan keluarga. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kehilangan anggota keluarga untuk selamanya adalah salah satu fase paling traumatis dalam hidup manusia.

Dalam proses penyembuhan luka batin tersebut, musik sering kali hadir sebagai medium katarsis untuk meluapkan emosi yang tak mampu diutarakan.

Salah satu karya musikal yang belakangan ini sukses mengaduk-aduk emosi pendengarnya adalah lagu “Sesi Potret” dari eńau (Enau) yang berkolaborasi dengan Ari Lesmana.

Lagu ini bukan sekadar senandung melankolis biasa.

Baca Juga: Bukan Sekadar Sedih, Ini Alasan Ilmiah Kenapa Rasa Kehilangan Membuat Nafsu Makan Hilang

Liriknya memotret realita pahit tentang perpisahan abadi dan penyesalan seorang anak rantau.

Jika ditinjau dari kacamata psikologis, makna lagu Sesi Potret terhadap luka dukacita sangat mewakili fase-fase kesedihan (stages of grief) yang dialami manusia.

Berikut adalah ulasannya:

1. Fase Denial (Penyangkalan) Akan Waktu yang Cepat Berlalu

Bagian awal lirik lagu ini menggambarkan seseorang yang sibuk merajut asa di tanah rantau demi mengubah nasib.

Ada penyangkalan tersirat bahwa ia merasa keluarganya akan selalu ada dan menunggunya pulang.

Namun, realita menghantam keras ketika ia akhirnya membawa pulang kesuksesan, justru sosok yang ingin ia bahagiakan telah tiada.

Ini adalah potret nyata betapa manusia sering kali menyepelekan waktu hingga akhirnya waktu itu sendiri yang merenggut kesempatannya.

2. Fase Anger (Kemarahan) Berupa Penyesalan Diri

Luka dukacita paling perih adalah rasa bersalah (guilt) yang tertinggal.

Lirik lagu ini menyuarakan kemarahan pada ego dan gengsi di masa lalu.

Mengapa saat raga sosok tersebut masih ada, sangat sulit untuk sekadar mengucapkan kata maaf, terima kasih, atau “aku sayang kamu”? Penyesalan karena membiarkan kata-kata bermakna itu tertahan di tenggorokan menjadi siksaan batin tersendiri bagi mereka yang ditinggalkan.

3. Kepedihan Menyadari Perubahan Formasi Keluarga

Pemilihan diksi “Sesi Potret” sangat cerdas secara psikologis. Foto keluarga adalah bukti autentik kebersamaan.

Lirik “Susunan barisannya tak sama lagi” menyoroti rasa shock dan kehampaan yang luar biasa.

Setiap kali ada perayaan atau momen kumpul keluarga di masa depan, akan selalu ada satu ruang kosong yang tak akan pernah bisa diisi oleh siapa pun, mengingatkan kembali pada luka kehilangan tersebut.

4. Realita Pahit di Balik Pusara

Lagu ini dengan sangat lugas menampar pendengarnya dengan kenyataan di area pemakaman.

Kunjungan ke “rumah baru” yang hanya berupa gundukan tanah dan batu nisan menjadi titik balik di mana kesedihan (depression) memuncak.

Tidak ada lagi tegur sapa, pelukan hangat, atau aroma khas dari sosok tersebut, yang ada hanyalah keheningan dan doa yang dikirimkan dari atas tanah.

5. Fase Acceptance (Penerimaan) yang Tertatih-tatih

Mencapai tahap ikhlas adalah bagian tersulit dari proses berduka.

Melalui kalimat puitis, “Soal ikhlas ternyata aku masih amatir”, lagu ini memvalidasi perasaan pendengarnya bahwa tidak apa-apa jika belum bisa sepenuhnya merelakan.

Ikhlas bukanlah tombol instan yang bisa ditekan kapan saja; ia adalah perjalanan panjang yang butuh waktu dan penerimaan atas kerapuhan diri sendiri.

Mendengarkan “Sesi Potret” adalah sebuah pengingat keras bagi kita yang masih memiliki waktu.

Turunkan ego, pulanglah selagi ada tempat untuk pulang, dan peluklah keluarga Anda sebelum sesi potret itu benar-benar kehilangan satu formasinya.

Baca Juga: Rahasia Sains di Balik Puasa: Mengapa Tubuh Bisa Menjadi Kurus Tanpa Kehilangan Otot?

(Mira)