Tekan Angka Stunting dan Krisis Psikologis, BKKBN Kalbar Gandeng Akademisi Perkuat Layanan Konseling Satyagatra

"BKKBN Kalbar teken MoU bersama UM Pontianak, IAIN, dan Rumah Zakat guna memperkuat layanan konseling keluarga dan cegah stunting melalui program Satyagatra."
BKKBN Kalbar teken MoU bersama UM Pontianak, IAIN, dan Rumah Zakat guna memperkuat layanan konseling keluarga dan cegah stunting melalui program Satyagatra. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, PONTIANAK – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Kalimantan Barat mengambil langkah taktis untuk menangani berbagai problematika keluarga, mulai dari pencegahan stunting hingga krisis psikologis.

BKKBN resmi menggandeng sejumlah institusi pendidikan dan lembaga sosial guna memperkuat implementasi program Satyagatra.

Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Aula Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat pada Senin (20/4).

Agenda krusial ini sebelumnya sempat mengalami penundaan saat Rapat Kerja Daerah (Rakerda) menyusul adanya imbauan pembatasan kegiatan tatap muka.

Baca Juga: Bantu Anak Stunting Tepat Sasaran, BKKBN Kalbar Buka Data untuk Donatur

Dalam memuluskan program ini, BKKBN Kalbar merangkul Rumah Zakat Kalimantan Barat, Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Pontianak, serta Program Studi Psikologi IAIN Pontianak.

Keterlibatan pihak akademisi dinilai vital untuk menyuntikkan pendekatan psikologi profesional yang dipadukan dengan nilai keislaman dan kearifan lokal dalam layanan konseling.

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi UM Pontianak, Dedi Alamsyah, menegaskan posisi perguruan tinggi dalam pusaran program strategis ini.

“Perjanjian Kerja Sama ini dimaksudkan sebagai landasan kerja sama antara para pihak dalam penyelenggaraan kegiatan konsultasi dan konseling di Satyagatra,” ujarnya.

Fokus utama dari kolaborasi lintas sektor ini tidak hanya berkutat pada penyuluhan administratif.

Perhatian khusus diarahkan pada intervensi sensitif berupa pendampingan psikologis bagi kelompok rentan, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga balita.

Pendampingan mental ini diproyeksikan sebagai lapisan pertahanan tambahan dalam skema pencegahan stunting di Kalimantan Barat.

Di ranah akademis, ruang kerja sama ini membuka keran bagi mahasiswa kebidanan maupun psikologi untuk terjun langsung melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL), magang, serta riset lapangan pada layanan Satyagatra.

Lebih jauh, BKKBN dan pihak kampus sepakat untuk menggodok kapasitas sumber daya manusia di lapangan.

Pelatihan, lokakarya, hingga supervisi klinis akan diberikan kepada kader Satyagatra dan Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) agar lebih tangkas saat merespons krisis psikologis di tengah masyarakat.

Selain itu, edukasi mengenai kesiapan mental calon pengantin, pola asuh anak, dan kesehatan mental remaja juga akan digencarkan.

Muara dari seluruh rangkaian kerja sama ini adalah pemetaan komprehensif terkait isu-isu keluarga di Kalbar, yang nantinya akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan pemerintah daerah yang akurat dan berbasis data ilmiah.

Baca Juga: Wabup Amru Chanwari dan BKKBN Kalbar Bahas Penguatan Program KB di Kayong Utara

(Mira)