GAPKI Sebut Hilirisasi Takkan Berhasil Jika Produktivitas Industri Sawit Bermasalah

Ilustrasi: Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di salah satu perkebunan. GAPKI menyoroti tantangan penurunan produktivitas di sektor hulu industri sawit. (Dok. Ist)
Ilustrasi: Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. (Dok. Ist)

Dalam diskusi bertajuk “Peran Industri Sawit dalam Perekonomian Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045”, Eddy menegaskan bahwa fokus pada hilirisasi tidak akan berhasil jika sektor hulunya tidak dibenahi.

“Hilirisasi tidak akan berhasil jika hulunya tidak diselesaikan. Menurut kami, yang harus diperbaiki adalah di hulunya dulu. Kalau hulunya bermasalah, hilirnya juga tidak akan berjalan baik,” ujar Eddy.

Eddy menekankan, keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada produktivitas kebun sawit. Ironisnya, dalam beberapa tahun terakhir, tren produktivitas sawit nasional justru menunjukkan penurunan.

“Produksi kita pada periode 2001–2005 terus meningkat, bahkan pada 2016–2020 naik tajam. Namun sejak 2021–2024 justru cenderung turun. PR-nya sekarang adalah bagaimana meningkatkan produktivitas agar produksi bisa naik,” tambah Eddy.

Eddy juga menyoroti pentingnya program biodiesel dalam menjaga stabilitas ekonomi di daerah sentra sawit. Menurutnya, tanpa kebijakan mandatori biodiesel, perekonomian lokal di wilayah penghasil sawit tidak akan sebaik saat ini.

“Dengan adanya biodiesel, harga tandan buah segar (TBS) tetap cukup bagus. Sebelum ada program itu, harga TBS bahkan sempat di bawah biaya produksi. Petani sampai membiarkan buahnya busuk di pohon, pengusaha pun bekerja dalam keadaan rugi,” jelasnya.

Namun, Eddy mengingatkan bahwa keseimbangan antara kebutuhan energi (biodiesel) dan pangan (minyak goreng, dll.) harus tetap dijaga.

Baca Juga: Konflik Sosial Mengancam: Pengambilalihan Kebun Sawit di Kawasan Hutan Dikritik Pakar IPB

Data GAPKI menunjukkan, hingga Agustus 2025, produksi sawit nasional naik 13,1 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.

Sementara ekspor meningkat 15,3 persen, dan konsumsi dalam negeri tumbuh 5,4 persen, sebagian besar karena program biodiesel.

Ironisnya, meski Indonesia adalah produsen CPO terbesar di dunia, kesadaran masyarakat akan konsumsi produk turunannya masih rendah.

“Kita tidak sadar kalau sebenarnya konsumsi produk sawit di dalam negeri sangat besar. Naturalisasi sawit di Indonesia ini salah satu yang paling berhasil. Padahal, tanaman ini asalnya dari Afrika, bahkan kini negara asalnya justru mengimpor dari kita,” ujarnya.

Meski data year-to-date positif, GAPKI mencatat produksi pada Agustus 2025 turun sekitar 1 persen dibanding Juli 2025. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa tantangan utama produktivitas industri sawit di hulu harus segera diselesaikan.

“Kita semua ingin berkontribusi untuk Indonesia Emas 2045. Tapi untuk sampai ke target 92,44 juta ton CPO, apalagi 100 juta ton, jalannya masih panjang. Kita perlu kerja keras bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani,” tegas Eddy.

(*Red)