Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, yang hadir bersama istrinya, Donata Dirasig Krisantus Kurniawan, mengapresiasi komitmen masyarakat dalam merawat warisan leluhur.
Ia menekankan pentingnya pelestarian budaya secara berkelanjutan di tengah tantangan zaman.
“Saya berharap pelaksanaan Naik Jurongk Tinggi menjadi bentuk nyata pelestarian budaya. Ini harus dijaga dan diwariskan lintas generasi,” ujar Krisantus.
Krisantus juga menyoroti pentingnya literasi digital bagi generasi muda Dayak.
Baca Juga: Ritual Adat Dayak “Nabo Padagi Ne Antanik” Jadi Forum Mediasi Warga dan PT BPK di Kubu Raya
Menurutnya, teknologi dapat membawa kemajuan sekaligus kemunduran, tergantung pada penggunanya.
“Di tangan kita masing-masing, di handphone kita, ada 50 persen surga dan 50 persen neraka. Semua tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Tanpa literasi digital, teknologi bisa menjerumuskan dari nilai-nilai luhur,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, yang juga menjabat sebagai Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh, menegaskan bahwa adat dan tradisi adalah fondasi kehidupan.
“Ritual ini bentuk rasa syukur kepada Duata (Tuhan) atas berkah hasil bumi, sekaligus penegasan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya. “Tugas saya mewarisi tanggung jawab para leluhur: menjaga adat dan menegakkannya dalam kehidupan masyarakat,” tambah Alexander.
Ia menjelaskan, wilayah adat Laman Sembilan dan Domong Sepuluh bukanlah entitas politik, melainkan sebuah kerajaan adat yang diwariskan turun-temurun.
Pelaksanaan ritual Naik Jurongk Tinggi menjadi bukti bahwa kemajuan tidak harus mengikis tradisi. Justru dari akar budaya yang kuat, lahir ketahanan dan karakter bangsa.
Baca Juga: Mengenal Rumah Adat Dayak di Pelanjau Tebas Sambas, Warisan Budaya Dayak Salako
Acara ini turut dihadiri oleh Gubernur Kalbar periode 2008–2018 Cornelis beserta istri, Ketua DAD Kalbar, unsur Forkopimda Ketapang, serta ribuan warga yang antusias menyaksikan prosesi sakral tersebut.
(*Red)
















