Menelusuri Jejak Sejarah dan Asal Muasal Suku Dayak Desa di Kalimantan Barat

"Menelusuri sejarah dan asal muasal suku Dayak desa di Kalimantan Barat. Kenali keunikan tradisi kain Pantang, bahasa, hingga ritual adat pelindung masyarakat."
Menelusuri sejarah dan asal muasal suku Dayak desa di Kalimantan Barat. Kenali keunikan tradisi kain Pantang, bahasa, hingga ritual adat pelindung masyarakat. (Dok. Mira/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kalimantan Barat tidak pernah kehabisan pesona jika berbicara tentang keragaman etnis dan budayanya.

Ketika membahas masyarakat asli Pulau Borneo, kita akan menemukan ratusan subsuku dengan keunikan gaya hidup dan tradisi masing-masing.

Salah satu yang menyimpan kearifan lokal yang menarik untuk ditelusuri adalah Suku Dayak Desa.

Meski namanya mengandung kata “desa”, ini bukanlah sebutan untuk masyarakat pedesaan pada umumnya, melainkan nama sebuah subsuku Dayak yang memiliki identitas yang kuat.

Baca Juga: 6 Fakta Menarik Naik Dango, Tradisi Syukur Panen Suku Dayak Kalimantan Barat

Bagi Anda penyuka wisata budaya, mari mengenal lebih dekat bagaimana asal muasal suku Dayak desa beserta keunikan tradisi mereka yang masih bertahan hingga kini.

1. Menetap di Kawasan Sanggau dan Sintang

Secara persebaran geografis, masyarakat Suku Dayak Desa banyak ditemukan mendiami sejumlah wilayah di Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Sintang.

Mereka telah menetap dan membangun peradaban di kawasan tersebut secara turun-temurun, hidup berdampingan selaras dengan alam, serta menjadikan hutan sebagai pedoman gaya hidup dan sumber kehidupan utama.

2. Sejarah Heroik di Masa Penjajahan

Secara garis besar, asal muasal suku Dayak desa erat kaitannya dengan sejarah panjang migrasi rumpun Dayak di masa lampau yang menyusuri aliran hulu sungai besar di Kalimantan.

Namun yang paling membekas dalam catatan sejarah adalah rekam jejak heroik mereka.

Pada masa penjajahan, masyarakat ini pernah mengobarkan Perang Dayak Desa, sebuah perlawanan sengit karena menolak tunduk pada kesewenang-wenangan tentara pendudukan Jepang.

Hal ini menunjukkan karakter mereka yang tangguh dan berani membela tanah leluhur.

3. Keunikan Dialek dan Bahasa

Dalam interaksi sehari-hari, masyarakat ini menggunakan Bahasa Dayak Desa.

Menariknya, bahasa ini memiliki kekhasan pelafalan fonem yang membedakannya dengan subsuku Dayak lainnya.

Misalnya, pelafalan huruf “r” yang cenderung tidak bergetar, serta penggunaan bunyi sengau yang khas di akhir suku kata.

Dialek unik ini menjadi bagian dari kekayaan linguistik daerah yang terus dilestarikan oleh generasi mudanya.

4. Karya Seni Tenun Ikat yang Bernilai Tinggi

Dari sisi gaya hidup berkesenian, Suku Dayak Desa sangat ahli dalam membuat karya tenun ikat.

Kain tenun kebanggaan mereka disebut dengan kain Pantang, dan proses menenunnya dikenal dengan istilah mantang.

Pada zaman dahulu, motif yang tertuang dalam kain Pantang bukan sekadar corak estetik, melainkan wujud rekam jejak atau penggambaran peristiwa penting yang sedang terjadi di masyarakat.

Bahkan, ada ritual khusus bagi penenun pemula untuk memohon kelancaran kepada para leluhur.

5. Keharmonisan Spiritual Lewat Nyapik Tangga

Masyarakat Dayak Desa menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta melalui berbagai ritual adat.

Salah satu tradisi yang masih dipegang teguh adalah Nyapik Tangga.

Ritual ini dilakukan sebagai bentuk doa dan permohonan kepada Petara (Sang Pencipta) agar para penghuni rumah adat senantiasa diberikan perlindungan, kedamaian, dan dijauhkan dari segala malapetaka.

Mempelajari kebudayaan Suku Dayak Desa bukan sekadar membalik lembaran sejarah, tetapi juga mengapresiasi bagaimana nilai-nilai luhur dan gaya hidup tradisional bisa tetap relevan menjaga keharmonisan alam di era modern.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Sape, Alat Musik Khas Dayak Kalimantan Barat yang Mendunia

(Mira)