Awas Kepuhunan! Ini 5 Pantangan Naik Dango yang Wajib Dipatuhi

"Di balik kemeriahannya, terdapat pantangan naik dango yang pantang dilanggar. Ketahui 5 pamali Suku Dayak saat perayaan panen agar terhindar dari nasib buruk."
Di balik kemeriahannya, terdapat pantangan naik dango yang pantang dilanggar. Ketahui 5 pamali Suku Dayak saat perayaan panen agar terhindar dari nasib buruk. (Dok. Mira/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Perayaan Naik Dango selalu identik dengan suka cita, pertunjukan seni yang meriah, serta sajian kuliner khas masyarakat Suku Dayak di Kalimantan Barat.

Namun, di balik kemeriahan festival syukur panen ini, terdapat sisi spiritual dan aturan adat yang sangat ketat.

Sebagai sebuah ritual sakral untuk berterima kasih kepada Jubata (Sang Pencipta), Naik Dango memiliki sejumlah pamali atau pantangan yang pantang dilanggar.

Aturan tak tertulis ini dibuat demi menjaga kesucian acara dan menghormati “semangat padi”.

Baca Juga: Naik Dango ke-3 Dimulai, Jaga dan Lestarikan Nilai Kearifan Lokal

Bagi Anda yang ingin ikut serta atau menyaksikan tradisi ini, berikut adalah 5 pantangan naik dango yang wajib Anda perhatikan:

1. Mengambil Padi di Dango Sebelum Ritual Selesai

Inti dari acara ini adalah prosesi menaikkan dan menyimpan padi hasil panen ke dalam dango (lumbung).

Pantangan keras bagi siapa pun untuk mengambil, memakan, atau mengeluarkan padi baru dari lumbung sebelum seluruh rangkaian doa dan ritual pemberkatan oleh tetua adat selesai dilakukan.

Melanggar hal ini dianggap kelancangan dan tidak menghargai rezeki yang diberikan Jubata.

2. Menolak Makanan atau Suguhan (Kepuhunan)

Saat perayaan berlangsung, masyarakat akan sangat terbuka menerima tamu dan menyajikan berbagai hidangan.

Jangan pernah menolak secara mentah-mentah makanan atau minuman yang ditawarkan tuan rumah.

Menolak suguhan dipercaya akan mendatangkan kepuhunan—sebuah nasib buruk, kesialan, atau malapetaka bagi orang yang menolak tersebut.

Jika memang sudah kenyang, cukup sentuh sedikit makanan atau pinggiran gelasnya sebagai tanda penghormatan.

3. Bertengkar dan Mengeluarkan Kata Kasar

Naik Dango adalah momen penuh rasa syukur, kebersamaan, dan kedamaian. Oleh karena itu, sangat dilarang keras untuk membuat keributan, bertengkar, atau mengucapkan kata-kata kotor dan makian selama masa perayaan.

Emosi negatif dan keributan diyakini dapat mencemari kesucian ritual, menyinggung roh leluhur, dan mengundang kesialan bagi seluruh penduduk desa.

4. Menyia-nyiakan Nasi atau Sisa Makanan

Masyarakat Dayak Kanayatn sangat memuliakan padi layaknya manusia. Padi dianggap memiliki nyawa atau “semangat”.

Membuang-buang nasi atau menyisakan makanan dengan sengaja selama perayaan adalah sebuah pamali besar.

Tindakan mubazir ini dipercaya akan membuat “jiwa padi” merasa sedih, tidak dihargai, dan akhirnya pergi meninggalkan desa yang bisa berujung pada gagal panen di musim berikutnya.

5. Sembarangan Menyentuh Benda Sakral

Di sekitar area upacara dan dango, biasanya terdapat berbagai perlengkapan adat dan sesajen pelengkap ritual.

Pengunjung atau masyarakat awam dilarang keras memegang, memindahkan, apalagi merusak benda-benda sakral tersebut tanpa seizin pemuka adat.

Tempat-tempat persembahan tersebut memiliki nilai magis yang harus dihormati batasannya.

Menjaga sikap dan menghormati adat istiadat setempat adalah kunci utama saat kita melebur dalam sebuah wisata budaya.

Mematuhi pantangan ini bukan berarti kuno, melainkan wujud apresiasi kita terhadap tingginya kearifan lokal di Bumi Khatulistiwa.

Baca Juga: Naik Dango 2026, Simbol Pelestarian Budaya dan Wisata Kota Pontianak

(Mira)