Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kalimantan Barat tidak hanya mempesona lewat kekayaan alamnya, tetapi juga warisan budaya yang terus dijaga kelestariannya.
Salah satu tradisi yang paling dinantikan setiap tahunnya adalah perayaan Naik Dango.
Ritual adat ini bukan sekadar pesta rakyat biasa, melainkan ekspresi spiritual dan sosial yang mendalam bagi masyarakat Suku Dayak, khususnya sub-suku Dayak Kanayatn.
Bagi Anda yang penasaran dengan kekayaan budaya di Bumi Khatulistiwa ini, berikut adalah 6 fakta menarik tentang tradisi Naik Dango di Kalimantan Barat:
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Sape, Alat Musik Khas Dayak Kalimantan Barat yang Mendunia
1. Wujud Syukur Kepada Jubata
Inti utama dari perayaan Naik Dango adalah bentuk rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta, yang dalam kepercayaan lokal disebut Jubata.
Syukur ini dipanjatkan atas limpahan berkah berupa hasil panen padi yang melimpah sepanjang tahun.
Masyarakat meyakini bahwa tanpa campur tangan Jubata, tanah tidak akan subur dan panen tidak akan berhasil.
2. Ritual Menyimpan Padi di Dango
Secara harfiah, Naik Dango berkaitan erat dengan prosesi memasukkan atau menyimpan hasil panen padi ke dalam dango atau lumbung padi tradisional.
Padi yang disimpan ini bukan sekadar cadangan makanan, melainkan juga disiapkan untuk benih pada musim tanam berikutnya.
Ritual ini melambangkan ketahanan pangan dan harapan akan kemakmuran di masa depan.
3. Sarat dengan Atraksi Seni Budaya
Perayaan ini selalu diwarnai dengan berbagai pertunjukan seni yang memukau.
Wisatawan dan masyarakat setempat akan disuguhi alunan musik tradisional, nyanyian mantra adat, hingga tarian magis nan indah seperti Tari Nimang Padi.
Tarian ini secara khusus dibawakan untuk menghormati roh padi agar selalu membawa kebaikan bagi kehidupan manusia.
4. Mempererat Tali Persaudaraan
Naik Dango adalah momen berkumpulnya seluruh elemen masyarakat, mulai dari tetua adat hingga generasi muda.
Tradisi ini menjadi wadah yang sangat efektif untuk mempererat tali silaturahmi, menyelesaikan perselisihan, dan merawat semangat gotong royong.
Semua orang lebur dalam kegembiraan tanpa memandang status sosial.
5. Sajian Kuliner Khas yang Autentik
Tidak lengkap rasanya membahas perayaan budaya tanpa kulinernya.
Saat Naik Dango berlangsung, rumah-rumah warga biasanya akan menyajikan berbagai makanan tradisional khas Dayak.
Beberapa kudapan wajib yang kerap ditemui antara lain tumpi (kue dari tepung beras dan gula merah), lemang, hingga berbagai olahan daging yang dimasak menggunakan bumbu rempah warisan leluhur.
6. Magnet Wisata Budaya Andalan Kalbar
Kini, Naik Dango telah bertransformasi menjadi salah satu agenda pariwisata unggulan di Kalimantan Barat.
Pemerintah daerah dan dewan adat setempat kerap mengemas perayaan ini dalam bentuk festival budaya berskala besar yang mampu menarik ribuan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang ingin merasakan langsung denyut nadi kebudayaan Dayak.
Melestarikan Naik Dango berarti menjaga identitas dan keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Sebuah kearifan lokal Kalimantan Barat yang patut kita banggakan.
Baca Juga: Pesona Tato Dayak: Bukan Sekadar Seni Tubuh, Ini Makna Mendalam di Baliknya
(Mira)
















