Di sebuah forum internasional tentang masa depan jurnalisme, Eli Alandari, co-founder dan Head of Content Blinx mengucapkan satu kalimat pendek yang menghentak: “TV is a barrier.” Ia tidak sedang merendahkan televisi. Ia sedang membongkar realitas: jurnalisme tradisional tengah gagal membaca zaman.
Kita hidup dalam dunia baru, tapi tetap berpikir dengan cara lama.
Jurnalisme Lama di Tengah Dunia Baru
Yang dikritik Eli bukan hanya soal platform. TikTok, Reels, YouTube Shorts—semuanya sudah ada di meja redaksi. Tapi mentalitas newsroom? Masih berada di era bulletin jam delapan malam. Masih percaya bahwa masyarakat akan “datang” mencari berita, padahal kenyataannya, informasi hari ini justru yang membanjiri audiens.
Generasi muda tidak menonton berita malam. Mereka tidak membaca koran pagi. Mereka hidup di dunia tanpa jeda. Dan jika jurnalisme ingin tetap relevan, maka ia harus bicara dengan bahasa generasi ini: cepat, tajam, dan terkoneksi secara emosional.
Emosi, Konteks, dan Kepercayaan
Ketika Eli berkata, “We spoke their language,” ia tidak sekadar bicara soal pilihan bahasa atau visual. Ia sedang bicara tentang bahasa yang membangun koneksi: emosi yang relatable, narasi yang kontekstual, dan penyampaian yang tidak menggurui.
Selama ini, jurnalisme menempatkan diri di atas panggung: formal, netral, objektif.
Tapi bagi generasi baru, netralitas bisa tampak seperti penghindaran. Objektivitas bisa terasa seperti ketidakterlibatan. Dan formalitas bisa terdengar seperti kepalsuan.
Mereka tidak butuh ceramah. Mereka butuh koneksi.
Jurnalis vs Algoritma
Masalahnya bukan hanya pada platform atau audiens. Masalahnya juga pada kompetitor baru: algoritma.
Saat berita palsu, ujaran kebencian, dan manipulasi politik bisa menyebar dalam hitungan detik, algoritma justru lebih efektif “berinteraksi” dengan publik dibanding jurnalis.
Namun AI bukan musuh. “AI is a tool,” kata Eli.
Ia bisa menyebar kebohongan, tetapi juga bisa digunakan untuk memverifikasi kebenaran, mendeteksi tren kebencian, bahkan menolong jurnalis memahami isu secara real-time. Tapi semua ini hanya akan terjadi jika jurnalis mau beradaptasi—bukan sembunyi di balik dalih etika sambil menolak alat baru.
Turun dari Podium, Masuk ke Percakapan
Dunia digital kini dipenuhi ruang-ruang isolasi, atau dalam kata Eli: ghetto. Di sanalah berkembang radikalisme, kebencian, dan kekacauan informasi.
Tapi jurnalis? Masih sibuk tampil di konferensi internasional, memberi ceramah dari podium—bukan dari dalam realitas publik.
“We live in a bubble,” katanya. Dan selama jurnalisme terus hidup dalam gelembung elitisme, ia akan gagal dipercaya. Media harus hadir di platform tempat orang-orang muda berbicara.
Kalau tidak, jurnalisme bukan hanya gagal menjangkau, tapi juga gagal dipahami.
Penutup: Jurnalisme Perlu Merendah, Bukan Menyerah
Kita tidak butuh jurnalisme yang menyerah pada clickbait.
Kita butuh jurnalisme yang mau membuang ego, tanpa membuang etika.
Yang memahami bahwa kepercayaan tidak dibangun dari menara gading, melainkan dari kesediaan untuk mendengar, membuka diri, dan berubah.
Karena kalau tidak, jurnalisme tidak akan selamat.
Oleh: Ismail Fahmi
(Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi. Segala data, analisis, dan interpretasi yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis).
















