Opini  

Ini Serius, Pocong Resahkan Warga di HSU, Satpol PP Turun Tangan

Ilustrasi - Petugas menindaklanjuti laporan warga terkait karung putih di atas pohon yang memicu isu kemunculan makhluk gaib di Hulu Sungai Utara. (Dok. Rosadi Jamani)
Ilustrasi - Petugas menindaklanjuti laporan warga terkait karung putih di atas pohon yang memicu isu kemunculan makhluk gaib di Hulu Sungai Utara. (Dok. Rosadi Jamani)

OPINI – Waduh, ada apa lagi dengan negeri ini? Belum cukupkah koruptor, judol, narkoba, pejabat manis di bibir pahit di kenyataan bikin resah? Sekarang muncul makhluk astral ikut nimbrung meramaikan keresahan republik tercinta ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Sebuah surat edaran dari Satpol PP dan Damkar Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) mendadak viral di media sosial. Surat tertanggal 4 Mei 2026 itu berisi imbauan peningkatan ketertiban dan ketentraman lingkungan desa menyusul laporan masyarakat terkait dugaan kemunculan makhluk gaib di sejumlah wilayah.

Baca Juga: Menjaga Cahaya Di Tengah Zaman yang Gelap

Saya ulangi perlahan, Satpol PP. Mengeluarkan surat. Gara-gara pocong.

Indonesia benar-benar tidak pernah gagal menjadi negara dengan genre campuran. Sedikit horor, sedikit komedi, sedikit thriller politik, sisanya sinetron ijazah dan rapat koordinasi.

Dalam surat itu, para kepala desa di beberapa kecamatan seperti Pihuang, Sungai Binuang, Panawakan, Tabalong Mati, dan Talaga Bamban diminta meningkatkan keamanan lingkungan serta menjaga kondisi tetap kondusif. Nama daerahnya saja sudah terdengar seperti map rahasia di game horor. Tinggal tambah “Bukit Tengkorak Berdarah” selesai sudah.

Nah, biang kerok semua keributan ini ternyata bukan penampakan naga terbang atau kuntilanak karaoke. Isunya dipicu oleh penampakan karung putih yang tergantung di pohon tinggi, menjuntai, dan terikat di kawasan perbatasan Desa Loksuga dan Desa Pihaung, Kecamatan Haur Gading. Inti kekacauan nasional ini… karung. Karung.

Bangsa lain bikin kecerdasan buatan. Kita bikin ketakutan massal dari karung menggantung. Karena muncul malam-malam, warga yang lewat langsung mengira itu pocong. Ya wajar juga sih. Kalau malam gelap, lihat kain putih menggantung di pohon, otak orang Indonesia otomatis loading. “Waduh… ini antara pocong atau baliho caleg gagal.”

Baca Juga: Logika Terbalik Itu Mulai Menemukan Kebenarannya

Banyak warga takut melintas. Ada yang ngebut saat lewat lokasi, ada yang memilih menghindari jalan tersebut. Saya membayangkan motor Supra bapak-bapak mendadak berubah jadi MotoGP begitu lihat “pocong edition” bergoyang tertiup angin.

“Gas! Gas! Jangan lihat belakang!”

Padahal bisa jadi itu cuma karung pupuk bekas. Tapi karena rakyat kita sudah terlalu sering hidup dalam ketidakpastian, lihat karung pun langsung muncul soundtrack film horor di kepala.

Isu ini ternyata sudah beredar sekitar satu bulan sebelum surat edaran keluar, kira-kira sejak awal April 2026, lalu makin ramai pasca Lebaran. Jadi habis silaturahmi dan makan ketupat, warga dapat bonus event tahunan, “Teror Pocong Pihaung.”

Di grup-grup lokal dan media sosial, warga ramai menyebut “pocong di Pihaung” atau “pocong pinggir jalan Padang Ranai.” Menariknya, tidak muncul nama-nama makhluk Banjar lain seperti Kuyang, Hantu Suluh, atau Mariaban. Artinya rakyat sudah sepakat bulat, “Itu pocong. Titik. Tidak perlu sidang DPR.”

Ini menunjukkan persatuan rakyat Indonesia sebenarnya masih kuat. Kalau soal hantu, konsensus nasional bisa tercapai dalam hitungan menit.

Kepala Satpol PP dan Damkar HSU, Asikin Noor, membenarkan adanya surat edaran tersebut. Menurutnya, langkah itu diambil sebagai respons atas keresahan warga yang melaporkan fenomena tak biasa pasca Idul Fitri 1447 Hijriah.