Opini  

Mengenal Erwin, Sahabat Dekat yang Sudah Menyandang Gelar Profesor

Akademisi Erwin Mahrus resmi dikukuhkan menjadi salah satu tenaga pendidik dengan jabatan fungsional tertinggi berkat dedikasinya meneliti sejarah Islam di wilayah Kalimantan.
Akademisi Erwin Mahrus resmi dikukuhkan menjadi salah satu tenaga pendidik dengan jabatan fungsional tertinggi berkat dedikasinya meneliti sejarah Islam di wilayah Kalimantan. (Dok. Rosadi Jamani)

OPINI – Saya merasa senang sekaligus kagum. Ini bukan kalimat pembuka basa-basi yang biasa dipakai orang saat kehabisan ide, tapi benar-benar perasaan datang seperti banjir bandang di musim hujan. Sahabat saya resmi menjadi Guru Besar. Profesor. Prof Dr Erwin Mahrus, M.Ag. Simak kisahnya sambil seruput Koptagul, wak!

Ia memang layak. Bukan karena ia pandai tampil, tapi karena ia terlalu sibuk bekerja. Kecintaannya pada sejarah Islam, khususnya di Kalimantan, itu bukan lagi hobi, itu sudah seperti hubungan serius tanpa jeda. Dari dulu, saat kami masih kuliah, ia dikenal cerdas, cepat, dan… agak “tidak sehat” dalam arti positif. Orang lain membaca untuk ujian, dia membaca untuk membongkar dunia. Tak main-main.

Baca Juga: Logika Terbalik Itu Mulai Menemukan Kebenarannya

Saya pernah ke rumahnya. Rumah sederhana di Tebas, Sambas. Anak petani. Tidak ada aura “ini calon profesor besar” yang biasanya dibayangkan orang, tidak ada perpustakaan megah, tidak ada pendingin ruangan yang bikin mikir lebih cepat. Tapi di situlah letak keajaibannya. Dari tempat sederhana itu lahir pikiran yang sanggup menembus batas daerah, bahkan menembus lupa.

Kami pernah berkolaborasi menulis buku. Waktu itu saat saya masih wartawan yang energinya lebih banyak dari ilmunya, dan ia baru tamat S2 tapi pikirannya sudah seperti dosen yang lagi menilai skripsi dunia. Kami memburu satu nama, Syech Ahmad Khatib Sambas. Ini bukan tokoh sembarangan. Disebut oleh Martin van Bruinessen dan Prof. Dr. H. Said Agil Siradj. Pendiri tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah. Penulis Fathul Arifin. Guru para ulama Nusantara. Levelnya kalau diibaratkan sekarang, bukan influencer, tapi “influencer para influencer.”

Baca Juga: Semakin Ramai Bicarakan Koptagul

Masalahnya satu. Di Sambas sendiri, orang tak kenal. Ini bukan sekadar ironi. Ini sudah masuk kategori “lupa berjamaah.” Kami keliling dari Tebas, Teluk Keramat, sampai Sambas. Bertanya ke sana-sini. Hasilnya? Nihil. Kosong. Sejarah seperti menghilang, mungkin ikut merantau.

Tapi kami nekat. Seperti cerita film yang kalau ditulis terasa lebay tapi ini nyata, kami akhirnya sampai di Selakau. Bertemu seorang pengurus masjid yang entah bagaimana seperti dikirim khusus oleh semesta. Dari tangannya keluar kitab Fathul Arifin. Di situ saya hampir merasa seperti menemukan harta karun. Bedanya ini tidak bisa dijual, ini harus diselamatkan.

Kami pinjam, fotokopi, lalu kembalikan. Dari situlah lahir buku Shaykh Ahmad Khatib Sambas (1803–1875). Buku itu diluncurkan di Hotel Kapuas, dibedah oleh KH Said Agil Siradj. Sampai sekarang masih dicari. Nuan bayangkan, dari pencarian yang awalnya seperti “misi bunuh diri intelektual”, lahir karya yang justru jadi rujukan. Ini bukti, kadang yang nekat itu bukan yang bodoh, tapi yang belum kehabisan harapan.

Sebagai akademisi, Prof. Dr. Erwin Mahrus, M.Ag. bukan tipe yang sibuk membuat sensasi. Ia membuat karya. Dengan sekitar 843 sitasi di Google Scholar, ia membangun reputasi yang tidak teriak-teriak tapi berdiri tegak. Karyanya “Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam” (bersama Syamsul Kurniawan) sangat banyak dikutip, lalu “Falsafah dan Gerakan Pendidikan Islam: Maharaja Imam Sambas, Muhammad Basiuni Imran (1885–1976)”, “Sejarah Pendidikan Islam”, “Shaykh Ahmad Khatib Sambas (1803–1875)”, dan berbagai tulisan tentang naskah Islam Sambas, moderasi beragama, hingga transmisi ilmu di Borneo. Ini bukan sekadar daftar, ini seperti “menu utama” bagi siapa pun yang serius belajar Islam di Kalimantan.