Opini  

Mengenal Erwin, Sahabat Dekat yang Sudah Menyandang Gelar Profesor

Akademisi Erwin Mahrus resmi dikukuhkan menjadi salah satu tenaga pendidik dengan jabatan fungsional tertinggi berkat dedikasinya meneliti sejarah Islam di wilayah Kalimantan.
Akademisi Erwin Mahrus resmi dikukuhkan menjadi salah satu tenaga pendidik dengan jabatan fungsional tertinggi berkat dedikasinya meneliti sejarah Islam di wilayah Kalimantan. (Dok. Rosadi Jamani)

Ia dosen senior di IAIN Pontianak, di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Fokusnya jelas, sejarah pendidikan Islam, tokoh ulama Kalimantan Barat, tasawuf, naskah klasik Borneo. Ia juga aktif sebagai editor jurnal, peneliti, pembicara, dan reviewer. Kalau diibaratkan mesin, ini bukan mesin biasa, ini mesin diesel. Tidak ribut, tapi tahan lama dan kuat menarik beban.

Sekarang, gelar Guru Besar di bidang Sejarah Pendidikan Islam resmi melekat. Sebuah pengakuan yang terasa seperti “akhirnya sistem akademik tidak salah pilih.” Di saat kita sering melihat orang naik cepat karena jalur yang… ya sudahlah, kita semua tahu, sosok seperti beliau justru naik pelan tapi pasti. Seperti air mendidih, diam, tapi pasti sampai titiknya.

Kisahnya mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi sering dilupakan, menjadi besar itu tidak harus berisik. Anak petani dari Tebas bisa menjadi profesor yang karyanya dikutip ratusan kali. Mencari kitab tua di kampung orang bisa lebih bermakna dari debat panjang yang tak menghasilkan apa-apa.

Yang paling penting, ia membuktikan, ilmu itu bukan sekadar untuk diketahui, tapi untuk diperjuangkan. Kadang harus jalan jauh, kadang harus ditertawakan karena “ngapain sih cari hal begituan,” tapi pada akhirnya, dunia akan diam sejenak… lalu mengakui.

Saya kagum. Bukan karena ia profesor. Tapi karena ia tetap menjadi orang yang sama, yang dulu nekat mencari sejarah yang hilang, dan sekarang justru menjadi bagian dari sejarah itu sendiri. Maaf tak bisa ngirimkan karangan bunga atau flyer, cukup dengan tulisan ini saya ucapkan, “Selamat dan Sukses buat sahabat saya, Prof. Erwin.” Ada waktu kita ngopi, wak!

Penulis: Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.