Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merosot tajam hingga menyentuh titik terendah sejak tahun 2021. Saham bank swasta terbesar ini melemah 5,84 persen ke level Rp 6.050 per lembar pada penutupan pekan lalu.
Aksi jual masif oleh investor asing memicu penurunan harga secara drastis. Data pasar mencatat nilai jual bersih asing (net foreign sell) mencapai Rp 2,1 triliun dalam sehari. Penurunan ini juga menyeret saham bank besar lainnya seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI).
Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menegaskan bahwa faktor eksternal menjadi penyebab utama kondisi ini. Menurutnya, investor asing sedang menata ulang portofolio mereka karena risiko makroekonomi global yang tidak menentu.
“Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas. Kalau dilihat, seluruh big banks melemah sejak awal tahun dan disertai net foreign sell yang besar. Jadi, ini tekanan sektoral, bukan spesifik ke BBCA,” ujar Jonathan, Senin (27/4/2026).
Tekanan Global dan Ketahanan Internal
Konflik geopolitik di Timur Tengah dan pelemahan rupiah terus menekan pasar saham domestik. Meski demikian, kinerja keuangan BCA tetap berada pada jalur yang kuat.
BCA berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 14,7 triliun pada kuartal I-2026. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 4 persen secara tahunan. Pendapatan non-bunga yang stabil mampu menjaga performa bank di tengah tekanan margin bunga bersih.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, menilai laba tersebut telah memenuhi ekspektasi pasar. Melalui riset terbarunya, mereka memberikan penjelasan mengenai pencapaian laba tersebut.
















