Awas Digeser AI! Kuasai Skill Ini Agar Selamat

Ilustrasi - Perusahaan sangat membutuhkan kandidat yang mampu melakukan kolaborasi produktif dan berdampingan dengan sistem cerdas. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Perusahaan sangat membutuhkan kandidat yang mampu melakukan kolaborasi produktif dan berdampingan dengan sistem cerdas. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Sebuah penelitian terbaru dari Harvard Business School memberikan gambaran jelas mengenai dampak AI generatif pada pasar tenaga kerja. Profesor Suraj Srinivasan bersama Wilbur Xinyuan Chen dan Saleh Zakerinia menulis riset mendalam terkait masalah krusial tersebut. Mereka mempublikasikan temuan ini melalui riset berjudul “Displacement or Complementarity? The Labor Market Impact of Generative AI”.

Tim peneliti menganalisis data lowongan kerja di Amerika Serikat sejak tahun 2019 hingga bulan Maret 2025. Mereka mengategorikan lebih dari 19.000 tugas pekerjaan yang tersebar dalam 900 profesi berbeda.

Hasil analisis tersebut menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan bagi para pencari kerja maupun profesional.

Baca Juga: Ramai Akun TikTok di Indonesia Terhapus Massal Imbas Aturan Batas Usia 16 Tahun, Pengguna Dewasa Ikut Terdampak

Ancaman Nyata Bagi Pekerjaan Repetitif

Dampak peluncuran ChatGPT pada bulan November 2022 menurunkan jumlah lowongan pekerjaan untuk tugas terstruktur sebesar 13 persen. Krisis kehilangan pekerjaan ini melanda sektor keuangan dan teknologi secara paling signifikan. Namun, perusahaan justru menaikkan permintaan terhadap tenaga kerja dengan kemampuan analitis, teknis, dan kreatif hingga 20 persen.

Temuan riset membuktikan kehadiran teknologi cerdas ini tidak semata-mata menghilangkan peluang pekerjaan manusia. Mesin pintar ini turut menciptakan permintaan baru terhadap peran spesifik yang membutuhkan kolaborasi mutakhir. Para peneliti menemukan potensi peningkatan karir paling tinggi pada pekerjaan yang menggabungkan tugas otomatis dan keterlibatan manusia.

Kolaborasi Manusia dan Mesin Pintar

Laporan riset tersebut memasukkan profesi mikrobiolog, analis keuangan, dan neuropsikolog klinis dalam kategori jabatan aman. Manajer investasi dan analis kini menggunakan alat berbasis AI untuk memproses data pasar secara cepat. Namun, manusia tetap memegang kendali penuh atas penilaian akhir dan proses pengambilan keputusan bisnis.

Perusahaan menurunkan permintaan keterampilan hingga 7 persen untuk berbagai lowongan kerja yang rentan terhadap otomatisasi. Sebaliknya, perusahaan mulai mencari kandidat yang menguasai berbagai keterampilan baru pada era digital ini. Anda wajib menguasai deretan keahlian khusus ini agar karir tetap cemerlang dan selamat dari ancaman mesin pintar.