Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Para ahli selalu menjadikan work-life balance sebagai indikator penting untuk menilai kualitas hidup pekerja. Namun, banyak negara ternyata masih menerapkan sistem jam kerja panjang dan membatasi jatah cuti karyawan.
Lembaga riset Remote.com mengungkap daftar negara dengan keseimbangan kerja terburuk di dunia pada tahun 2025. Para peneliti menganalisis 60 ekonomi terbesar dunia berdasarkan pendapatan domestik bruto untuk menyusun laporan ini.
Faktor Penilaian Keseimbangan Kerja
Laporan tersebut menilai jumlah hari cuti berbayar, kebijakan cuti sakit, hingga durasi cuti melahirkan. Peneliti juga memasukkan jam kerja rata-rata per minggu beserta durasi kerja lembur sebagai indikator utama.
Baca Juga:Â Sisi Gelap Bekerja di Media yang Jarang Diketahui: Work Life Balance Akan Direnggut Paksa
Faktor pendukung seperti standar upah minimum, kualitas layanan kesehatan, dan tingkat keamanan juga menjadi bagian penilaian penting. Negara dengan jam kerja panjang dan perlindungan pekerja minim pasti langsung menempati peringkat terbawah.
Fakta Mengejutkan Amerika dan Nigeria
Laporan bergengsi tersebut menempatkan Nigeria pada posisi paling bawah atau peringkat ke-60 secara global. Pemerintah setempat tidak memberikan hak cuti memadai dan memiliki tingkat keamanan yang sangat rendah.
Amerika Serikat secara mengejutkan ikut menempati daftar negara dengan sistem kerja terburuk ini. Pemerintah negara adidaya tersebut terbukti tidak memberikan jaminan sistem cuti berbayar secara nasional bagi para pekerjanya.
Peneliti juga menyoroti budaya kerja Tiongkok dan India yang menuntut jam kerja terlalu panjang setiap hari. Sementara itu, Filipina sukses mencatatkan indeks kebahagiaan cukup tinggi meski warganya memiliki rata-rata jam kerja 42 jam per minggu.
Baca Juga:Â Sulit Fokus Bekerja? Terapkan Metode Deep Work





















