“Sejauh ini saya sudah dua kali terima bagi hasil. Penghasilan ini sangat membantu dapur tetap ngepul. Saya bisa membantu suami memenuhi kebutuhan harian, terutama sewaktu suami belum mengirimkan uang. Uang ini biasanya saya gunakan untuk membeli bahan makanan, sabun, garam, dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” katanya.
Ketua Kelompok Nugget Ikan, Latipah, turut merasakan manfaat serupa dari program pemberdayaan ini.
“Daripada hanya diam di rumah, lebih baik berkumpul dengan ibu-ibu lain untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai jual. Dari bagi hasil penjualan nugget, saya mendapatkan tambahan uang tunai. Biarpun jumlahnya belum tetap setiap bulannya, tapi jumlah ratusan ribu rupiah yang kami terima sangat berarti buat kami yang tinggal di pulau,” katanya.
Seluruh produk olahan ini dipasarkan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di KIPP, sebuah Proyek Strategis Nasional (PSN) yang disiapkan sebagai pusat pengolahan bauksit.
Baca Juga: Gandeng IPB, PT DIB Latih 64 Ibu-Ibu Desa Pelapis Olah Ikan Jadi Bakso dan Nugget Bernilai Ekonomis
External Relation Manager PT DIB, Sugeng Sulistiyo, menjelaskan bahwa program ini bertujuan mengatasi stagnasi pendapatan nelayan akibat keterbatasan metode pengolahan.
“Kami melihat potensi besar pada perempuan pesisir yang selama ini perannya dalam ekonomi keluarga masih bisa dioptimalkan, padahal mereka adalah kunci perubahan di tingkat rumah tangga,” jelasnya.
Melalui pelatihan dan pendampingan, masyarakat kini mampu memproduksi olahan berstandar keamanan pangan. Kapasitas produksi kolektif saat ini mencapai 200 kilogram per bulan, yang berdampak pada peningkatan pendapatan anggota hingga 40 persen.
Ke depan, PT DIB berkomitmen mengembangkan keberlanjutan program ekonomi masyarakat pesisir ini melalui penguatan infrastruktur pendukung, termasuk memastikan penyediaan listrik yang stabil dan manajemen pasokan bahan baku yang lebih terstruktur.
(*Red)
















