Baca Juga: Wali Kota Pontianak Serahkan Bantuan Budikdamber untuk Cegah Stunting dan Kendalikan Inflasi
Capaian kumulatif sepanjang tahun 2025 yang berada di angka 1,50 persen juga masih dalam rentang target nasional.
“Dengan angka tersebut, Kota Pontianak termasuk daerah yang mampu menjaga stabilitas inflasi pada level rendah,” tambahnya.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor pendorong inflasi. Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 1,44 persen akibat lonjakan harga minyak dunia imbas konflik Timur Tengah.
“Kenaikan harga avtur berdampak pada tarif angkutan udara, sehingga mendorong inflasi pada kelompok transportasi,” paparnya.
Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil inflasi sebesar 0,68 persen. Kebijakan energi domestik juga turut berpengaruh.
“Selain itu, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan LPG non-subsidi oleh Pertamina pada 18 April 2026 juga memberikan dampak terhadap inflasi daerah,” sebutnya.
Di sisi lain, harga emas global pada April 2026 cenderung fluktuatif dan sempat turun di kisaran Rp2,81 juta per gram pada akhir bulan. BPS berharap tren stabilitas harga ini dapat terus dipertahankan ke depannya.
“Dengan demikian, Pontianak berpeluang kembali meraih penghargaan sebagai daerah dengan kinerja pengendalian inflasi yang baik di tingkat nasional,” tutupnya.
(*Red)
















