“Kita optimistis, walaupun ini berat, perjuangan tidak boleh berhenti. Kita yakin ke depan akan ada progres dan respons positif dari pusat,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Alexander juga menyinggung kondisi demografi Ketapang yang sangat heterogen.
Dengan kehadiran berbagai kelompok masyarakat dari Paguyuban Jawa, Pasundan, Tionghoa, Bugis, Minang, hingga Flobamora dan Bali, ia menyebut Ketapang sebagai miniatur Indonesia.
Ia mengibaratkan wilayah tersebut sebagai “rumah besar” yang stabilitas dan kerukunannya harus dijaga secara kolektif oleh seluruh etnis dan umat beragama.
Turut hadir dalam agenda tersebut Bupati Ketapang periode 2016–2025, Dermalo Martin Rantan. Rangkaian acara malam itu juga diisi dengan penampilan seni bela diri dari IPSI Ketapang, tarian tradisional, serta penyerahan santunan sosial kepada anak yatim.
Baca Juga: Belum Penuhi Standar Teknis, Operasional 12 Dapur MBG di Ketapang Dihentikan Sementara
(Mira)
















