Terjebak Kemiskinan Struktural, Ini 5 Alasan Mahasiswa Tingkat Akhir Terpaksa Bekerja

"Fenomena mahasiswa tingkat akhir yang bekerja sambil menyusun skripsi sering kali dipandang sebagai ambisi. Padahal, banyak yang terpaksa akibat sistem kemiskinan struktural."
Fenomena mahasiswa tingkat akhir yang bekerja sambil menyusun skripsi sering kali dipandang sebagai ambisi. Padahal, banyak yang terpaksa akibat sistem kemiskinan struktural. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Memasuki fase akhir perkuliahan, mahasiswa idealnya bisa fokus menyelesaikan skripsi agar segera lulus.

Namun, realita di lapangan menunjukkan semakin banyak mahasiswa tingkat akhir yang memilih atau lebih tepatnya terpaksa mengambil pekerjaan part-time, freelance, hingga full-time di tengah tumpukan revisi.

Media sosial sering kali meromantisasi fenomena ini sebagai bentuk produktivitas tinggi atau hustle culture.

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, pilihan untuk bekerja sambil kuliah sering kali bukanlah sebuah ambisi pribadi, melainkan respons bertahan hidup dari cengkeraman sistem kemiskinan struktural.

Baca Juga: Kawal Sidang Praperadilan Bawaslu di PN Pontianak, Aliansi Mahasiswa Tuntut Independensi Hakim

Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang terjadi bukan karena individu tersebut malas, melainkan karena sistem sosial, ekonomi, dan kebijakan yang ada membatasi akses mereka terhadap sumber daya.

Berikut adalah 5 sistem kemiskinan struktural yang memaksa mahasiswa tingkat akhir tetap harus bekerja:

1. Komersialisasi Pendidikan dan Beban UKT yang Mencekik

Sistem pendidikan tinggi saat ini semakin bergeser ke arah komersialisasi.

Biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) terus merangkak naik setiap tahunnya dan tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi masyarakat menengah ke bawah.

Ironisnya, mahasiswa tingkat akhir yang hanya mengambil segelintir SKS (Sistem Kredit Semester) untuk skripsi sering kali tetap diwajibkan membayar UKT penuh.

Hal ini memaksa mereka bekerja untuk menebus “hak” mereka agar bisa lulus.

2. Stagnasi Upah Minimum Orang Tua di Tengah Inflasi

Kenaikan harga kebutuhan pokok (living cost) berjalan jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) atau kabupaten.

Ketika pendapatan orang tua stagnan dan tergerus inflasi, kemampuan mereka untuk membiayai pendidikan anak hingga tuntas menjadi lumpuh.

Mahasiswa akhirnya harus turun tangan mencari nafkah sendiri agar dapur keluarga tetap mengepul dan kuliah tidak putus di tengah jalan.

3. Terjebak dalam Rantai Sandwich Generation

Banyak mahasiswa tingkat akhir berasal dari keluarga yang tidak memiliki jaring pengaman sosial atau dana pensiun yang memadai.

Akibatnya, mereka secara otomatis mewarisi beban finansial keluarga sejak masih muda.

Mereka tidak hanya bekerja untuk membiayai skripsi sendiri, tetapi juga untuk melunasi utang keluarga, membayar sewa rumah, atau membiayai sekolah adik-adiknya.

Sistem ini membuat mereka terjebak dalam rantai sandwich generation yang sulit diputus.

4. Mahalnya Ekosistem Riset Tanpa Subsidi yang Memadai

Menyelesaikan skripsi membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit.

Mulai dari biaya transportasi untuk turun ke lapangan, pencetakan draf berulang kali, akses ke jurnal berbayar, hingga kebutuhan kuota internet.

Di saat kampus atau pemerintah belum mampu menyediakan subsidi penelitian yang merata bagi seluruh mahasiswa, bekerja menjadi satu-satunya jalan keluar untuk menutupi ongkos kelulusan tersebut.

5. Syarat Dunia Kerja yang Meminggirkan Fresh Graduate

Sistem rekrutmen tenaga kerja saat ini sangat diskriminatif terhadap lulusan baru (fresh graduate).

Banyak perusahaan menetapkan syarat memiliki pengalaman kerja 1-2 tahun untuk posisi tingkat awal (entry-level).

Mahasiswa dari kelas ekonomi bawah sadar bahwa ijazah saja tidak cukup untuk mengangkat derajat keluarga.

Mereka terpaksa bekerja sejak kuliah meski dibayar sangat murah atau hanya sebagai anak magang demi mengumpulkan modal pengalaman agar bisa bersaing di pasar kerja yang keras.

Bekerja sambil menyusun skripsi memang melatih mental dan kemandirian.

Namun, kita harus berhenti meromantisasi fenomena ini dan mulai menyadari bahwa ada masalah sistemik yang perlu segera dibenahi agar pendidikan tinggi benar-benar bisa diakses dan diselesaikan oleh semua golongan secara manusiawi.

Baca Juga: Polisi Gagalkan Penyelundupan Sabu di Bandara Supadio, Mahasiswa Sembunyikan 610 Gram Sabu di Celana Dalam

(Mira)