Berani Berhenti dari Hustle Culture, Ini 5 Persiapan Slow Living untuk Gen Z yang Baru Resign

"Memilih resign untuk memulihkan diri dari kelelahan mental? Berikut lima persiapan penting bagi Gen Z yang ingin memulai gaya hidup slow living yang tenang."
Memilih resign untuk memulihkan diri dari kelelahan mental? Berikut lima persiapan penting bagi Gen Z yang ingin memulai gaya hidup slow living yang tenang. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Bagi generasi Z (Gen Z), budaya kerja yang serba cepat atau hustle culture sering kali berujung pada kelelahan mental yang ekstrem (burnout).

Tidak heran jika banyak yang akhirnya mengambil keputusan berani untuk resign atau mengundurkan diri demi menyelamatkan kewarasan.

Setelah resign, banyak yang tertarik untuk mengadopsi gaya hidup slow living sebuah pendekatan hidup yang lebih lambat, penuh kesadaran (mindful), dan mengutamakan kualitas alih-alih kecepatan.

Namun, transisi dari pekerja sibuk menjadi penganut slow living tidak bisa dilakukan secara instan.

Baca Juga: Berat Melangkah Pergi, Ini 5 Alasan Sedih Harus Resign dari Pekerjaan Impian Demi Prioritas Lain

Agar masa jedamu tidak malah berubah menjadi kecemasan baru, berikut adalah 5 persiapan slow living yang wajib dilakukan Gen Z setelah resign:

1. Amankan Dana Transisi dan Lakukan Budgeting

Slow living akan sangat sulit dinikmati jika kamu terus-menerus dihantui oleh kecemasan finansial.

Sebelum benar-benar menekan tombol jeda, pastikan kamu sudah memiliki dana darurat atau dana transisi yang cukup untuk menghidupi kebutuhan dasarmu selama beberapa bulan ke depan.

Lakukan penyesuaian anggaran (budgeting) secara ketat. Kurangi kebiasaan jajan impulsif atau langganan aplikasi yang tidak perlu agar kamu bisa fokus pada hal-hal esensial.

2. Lakukan Detoksifikasi Media Sosial (Digital Detox)

Salah satu musuh terbesar slow living adalah rasa takut tertinggal atau FOMO (Fear of Missing Out).

Melihat rekan sebaya memamerkan pencapaian karier mereka di LinkedIn atau gaya hidup mewah di Instagram hanya akan memicu rasa rendah diri.

Mulailah membatasi waktu layar (screen time) atau hapus sementara aplikasi media sosial dari ponselmu.

Beri ruang bagi dirimu untuk bernapas tanpa harus membandingkan jalan hidupmu dengan orang lain.

3. Format Ulang Makna “Produktivitas” di Kepalamu

Gen Z sering kali dicuci otaknya untuk percaya bahwa beristirahat adalah sebuah dosa.

Untuk memulai slow living, kamu harus menanggalkan pola pikir tersebut (unlearn).

Pahami bahwa produktivitas tidak melulu diukur dari seberapa banyak uang yang dihasilkan atau seberapa sibuk kamu hari ini.

Memasak makanan sehat untuk diri sendiri, membaca buku, atau sekadar tidur siang yang nyenyak adalah bentuk produktivitas dalam merawat diri sendiri (self-care).

4. Bangun Rutinitas Pagi yang Penuh Kesadaran (Mindful)

Dulu, pagimu mungkin diisi dengan kepanikan: bangun kesiangan, buru-buru mandi, dan mengecek surel pekerjaan sambil mengunyah roti.

Kini, ciptakan rutinitas pagi yang melambat.

Bangunlah dengan tenang, hirup udara segar, seduh kopi atau tehmu perlahan, dan nikmati sarapan tanpa gangguan gawai.

Menjalani pagi dengan mindfulness akan menentukan suasana hati (mood) yang positif untuk sisa hari tersebut.

5. Singkirkan Barang dan Distraksi yang Tidak Perlu (Decluttering)

Ruangan yang berantakan adalah cerminan pikiran yang kacau.

Luangkan waktu di awal masa resign untuk menyingkirkan barang-barang yang tidak lagi memberikan kebahagiaan (spark joy).

Pisahkan pakaian yang tidak pernah dipakai, rapikan meja kerja yang kini beralih fungsi, dan bersihkan kamar tidurmu.

Konsep minimalisme ini sangat sejalan dengan slow living, karena semakin sedikit barang yang kamu urus, semakin banyak waktu dan energi yang bisa kamu simpan.

Resign bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah koma untuk mengambil napas.

Nikmatilah fase melambat ini untuk benar-benar mendengarkan kembali apa yang diinginkan oleh tubuh dan pikiranmu.

Baca Juga: Tinggalkan Hustle Culture, Ini 6 Alasan Gen Z Berani Pilih Resign dan Terapkan Slow Living

(Mira)