Faktakalbar.id, LIFESTYLE – “Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang?”
Bagi sebagian besar orang, penggalan lirik pembuka dari lagu “Secukupnya” karya Hindia (Baskara Putra) mungkin hanya terdengar puitis.
Namun, bagi mahasiswa tingkat akhir yang harus membagi waktu antara revisi skripsi dan bekerja (part-time maupun full-time), lirik tersebut adalah sebuah tamparan realita yang sangat akurat.
Menjalani peran ganda sebagai pekerja sekaligus mahasiswa tingkat akhir bukanlah hal yang romantis.
Baca Juga: Digarap Sutradara Edwin, Album Menari dengan Bayangan Hindia Diangkat Jadi Film
Di tengah gempuran budaya kerja serba cepat (hustle culture), lagu “Secukupnya” hadir bukan untuk menyemangati secara berlebihan (toksik), melainkan memvalidasi rasa lelah.
Berikut adalah potret realita mengapa lagu ini sangat beresonansi dengan kehidupan mahasiswa pejuang skripsi yang merangkap sebagai pekerja:
1. Validasi Atas Rasa Lelah yang Selalu Disembunyikan
Banyak mahasiswa pekerja yang merasa tidak berhak untuk mengeluh.
Mereka dituntut untuk profesional di tempat kerja, sekaligus dituntut cepat lulus oleh keluarga dan dosen pembimbing.
Lirik “Semua yang sirna kan nanti berganti” memberikan validasi bahwa merasa lelah, stres, dan ingin menangis di tengah tumpukan draf skripsi dan laporan pekerjaan adalah hal yang sangat wajar sebagai manusia.
2. Tenggat Waktu (Deadline) yang Saling Bertabrakan
Realita paling pahit dari fase ini adalah waktu 24 jam terasa tidak pernah cukup.
Saat pagi hingga sore hari harus melayani klien atau menyelesaikan tugas kantor, malam harinya harus begadang membaca jurnal dan mencari teori.
Fase kurang tidur yang ekstrem ini membuat mahasiswa sering kali berada di ambang kelelahan mental (burnout), membuat lirik tentang kehilangan tidur tenang menjadi sangat relevan.
3. Menerima Ketidaksempurnaan untuk Bisa Bertahan
Ada kalanya mahasiswa idealis ingin membuat skripsi yang sempurna.
Namun, energi yang tersisa setelah bekerja sering kali hanya cukup untuk membuat skripsi yang “penting selesai”.
Hindia mengingatkan pendengarnya untuk bersedih secukupnya dan menerima bahwa terkadang, menurunkan ekspektasi dan tidak menjadi sempurna adalah satu-satunya cara kewarasan kita bisa bertahan.
4. Beban Finansial dan Tuntutan Kemandirian
Banyak mahasiswa terpaksa bekerja di tengah skripsi karena tuntutan finansial entah untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT), membiayai riset skripsi itu sendiri, atau membantu ekonomi keluarga.
Beban ganda ini sering kali membuat mereka merasa tertinggal dari teman-teman seangkatan yang hanya fokus kuliah.
Lagu ini menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki garis waktu (timeline) masing-masing, dan tidak perlu membandingkan penderitaan.
5. Pengingat untuk Istirahat Secukupnya
Pada akhirnya, “Secukupnya” adalah sebuah mantra.
Lagu ini tidak menyuruh mahasiswa untuk menyerah pada keadaan atau berhenti mengerjakan skripsi.
Sebaliknya, lagu ini menyarankan untuk mengambil jeda.
Menangislah secukupnya, tidurlah secukupnya, dan bersedihlah secukupnya, lalu esok hari kembali buka laptop untuk mengetik bab selanjutnya.
Bagi Anda yang saat ini sedang berada di fase berat ini, tarik napas dalam-dalam.
Perjalanan Anda sangat berharga. Tetaplah melangkah, meski pelan, dan jangan lupa untuk beristirahat secukupnya.
Baca Juga: 5 Makna Manis di Balik Lirik Semua Lagu Cinta Milik Hindia yang Menyentuh Hati
(Mira)
















