Di Balik Lensa Kamera: 5 Pemicu Guncangan Mental Jurnalis Saat Meliput Kasus Berat

"vJurnalis sering dianggap kebal rasa, padahal rentan trauma. Simak 5 realita pahit yang diam-diam menggerogoti kesehatan mental wartawan di lapangan."
Jurnalis sering dianggap kebal rasa, padahal rentan trauma. Simak 5 realita pahit yang diam-diam menggerogoti kesehatan mental wartawan di lapangan. (Dok. Ist)

Panggilan telepon misterius di tengah malam, mobil yang dibuntuti orang tak dikenal, hingga ancaman terhadap keselamatan keluarga di rumah adalah hal yang nyata.

Hidup dalam mode “waspada tinggi” (hypervigilance) terus-menerus membuat sistem saraf jurnalis kelelahan, memicu kecemasan kronis dan paranoia.

4. Serangan Digital (Doxing & Cyberbullying)

Di era digital, ancaman berpindah ke media sosial.

Saat jurnalis memberitakan kasus kontroversial yang menyinggung kelompok fanatik tertentu, mereka rentan menjadi target doxing (penyebaran data pribadi).

Ribuan komentar kebencian, cacian fisik (body shaming), hingga ancaman pembunuhan yang masuk ke DM (Direct Message) pribadi bisa meruntuhkan mental sekuat apa pun.

Perasaan tidak aman ini bahkan terasa saat mereka sedang bersantai di rumah, karena teror ada di dalam genggaman tangan (ponsel) mereka.

5. Rasa Tidak Berdaya (Helplessness)

Jurnalis sering kali meliput kemiskinan ekstrem atau ketidakadilan hukum.

Mereka melihat penderitaan di depan mata, namun terikat kode etik bahwa tugas mereka hanya “melaporkan”, bukan “mencampuri”.

Ada rasa frustrasi yang luar biasa ketika berita yang mereka tulis dengan susah payah ternyata tidak mengubah keadaan.

Koruptor tetap bebas, korban tetap miskin, dan keadilan tetap tumpul. Perasaan “percuma” ini bisa memicu burnout dan depresi karena merasa pekerjaan mereka tidak memiliki dampak nyata.

Kesimpulan: Jurnalis Perlu Ruang untuk Pulih

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti calon jurnalis, melainkan untuk membangun kesadaran (awareness).

Bahwa di balik setiap berita yang kita baca, ada pengorbanan mental dari penulisnya.

Sudah saatnya industri media dan masyarakat menormalisasi bahwa jurnalis juga boleh merasa sedih, boleh menangis, dan berhak mendapatkan dukungan psikologis.

Mereka adalah pembawa pesan, bukan robot tanpa perasaan.

Baca Juga: Jurnalis Jadi Korban Kekerasan, Media Diintervensi dan Dibungkam Warnai Aksi 25–30 Agustus 2025

(*Mira)