Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Sering nongkrong di kafe sambil pesan matcha latte, boba, atau es kopi susu gula aren? Well, kebiasaan jajan minuman manis ini memang ampuh buat naikin mood, tapi awas, ada bahaya tersembunyi yang siap mengintai masa muda kamu.
Percaya atau tidak, diabetes tipe 2 yang dulunya sangat identik dengan penyakit bawaan lansia, sekarang mulai asyik ‘nongkrong’ di kalangan Gen Z dan milenial.
Baca Juga: Normal Sweet Kini Hanya 50 Persen, Cara Thailand Lawan Overdosis Gula dan Diabetes
Pola makan yang berlebihan, hobi jajan serba manis, ditambah kebiasaan mager alias minim aktivitas fisik bikin risiko gangguan metabolisme melejit tajam di kelompok usia produktif.
Buat mengerem tren yang sangat mengkhawatirkan ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tidak tinggal diam. Mereka resmi meluncurkan sistem Nutri-Level, sebuah terobosan asyik untuk pelabelan informasi gizi pada kemasan makanan dan minuman siap saji yang ada di pasaran.
Biar kamu lebih aware saat jajan, sistem Nutri-Level ini menggunakan indikator tingkatan berupa grade A, B, C, dan D. Semakin mendekati label D, berarti kamu harus makin ekstra waspada dengan kandungan gula, garam, dan lemak jahat di dalamnya.
Fakta soal anak muda yang makin rentan terkena diabetes ini juga dibenarkan oleh spesialis penyakit dalam, Erpryta Nurdia Tetrasiwi. Ia membongkar realita bahwa pasien diabetes di bawah usia 35 tahun kini makin gampang ditemukan di ruang praktik.
“Dulu dikatakan anak muda itu aman dari diabetes dan hipertensi. Tapi sekarang, yang di bawah 35 tahun sudah cukup banyak,” ungkap Erpryta membeberkan fakta di lapangan.
Lalu, seberapa banyak sih batas aman kita konsumsi gula biar tubuh nggak gampang tumbang? Erpryta memberikan wejangan agar kita lebih disiplin menjaga asupan harian dan mulai membiasakan diri membaca label kemasan.
















