Kemenkes Pastikan Kasus Hantavirus di Indonesia Belum Menular ke Manusia

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penularan infeksi hantavirus yang bersumber dari kotoran atau sekresi hewan pengerat seperti tikus.Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penularan infeksi hantavirus yang bersumber dari kotoran atau sekresi hewan pengerat seperti tikus.
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penularan infeksi hantavirus yang bersumber dari kotoran atau sekresi hewan pengerat seperti tikus. (Dok. Ist)

“Berdasarkan penelitian terdahulu kasus HFRS telah ditemukan sejak tahun 1991 di beberapa daerah di Indonesia,” kata ia.

Andi menyambung bahwa seluruh laporan terkait kasus hantavirus di Indonesia yang terkonfirmasi sebagai tipe HFRS merupakan strain Seoul Virus.

Penelitian Rikhus Vektora di 29 provinsi juga menemukan keberadaan virus ini pada populasi tikus celurut liar.

“Yang untuk Serang itu hanya menginfeksi tikus saja. Jadi tidak terjadi penularan dari tikus ke manusia di Indonesia,” katanya.

Kementerian Kesehatan terus memperkuat pengawasan ketat melalui sistem surveilans di 21 rumah sakit sentinel penyakit infeksi emerging.

Fasilitas kesehatan tersebut diminta selalu waspada terhadap pasien yang menunjukkan gejala awal mengarah pada hantavirus.

Kewaspadaan difokuskan pada tipe HFRS yang dapat menimbulkan gejala demam berdarah disertai gangguan ginjal dan penyakit kuning.

Pemerintah selama ini terus aktif melakukan pemantauan di lapangan untuk memastikan gejala serupa bukan berasal dari virus tersebut.

“Kalau tipe HFRS ini adalah bahwa dia kuning. Jadi jika ada pasien masuk di rumah sakit, kita melakukan surveillance,” ujarnya.

Andi turut memaparkan sejumlah perbedaan gejala klinis yang ditimbulkan saat seseorang terinfeksi hantavirus jenis HPS dan HFRS.

Gejala utama pada penderita HPS antara lain meliputi demam tinggi, nyeri badan, lemas, batuk berkelanjutan, hingga sesak napas parah.

Masa inkubasi penyakit menular tipe ini berkisar antara satu hingga delapan minggu setelah paparan pertama terjadi.

Masa inkubasi khusus untuk penderita yang terinfeksi tipe Andes Virus bahkan dapat memakan waktu hingga mencapai 42 hari.

Tingkat kematian pada pasien yang terinfeksi tipe HPS tergolong sangat tinggi karena mencapai angka Case Fatality Rate 60 persen.

Sementara itu gejala penderita HFRS selalu ditandai dengan munculnya demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, dan tubuh menguning akibat gangguan hati.

Masa inkubasi penyebaran penyakit untuk tipe HFRS relatif lebih singkat yaitu hanya memakan waktu sekitar satu hingga dua minggu.

Tingkat kematian pada pasien HFRS juga tercatat jauh lebih rendah dengan Case Fatality Rate berkisar antara lima hingga 15 persen.

(*Red)