Luapan Sungai Picu Banjir di Pasuruan Rendam 1.320 Rumah

Kondisi rumah warga di salah satu desa di Kabupaten Pasuruan yang terendam banjir luapan Daerah Aliran Sungai Welang pasca hujan lebat.
Kondisi rumah warga di salah satu desa di Kabupaten Pasuruan yang terendam banjir luapan Daerah Aliran Sungai Welang pasca hujan lebat. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Baca Juga: Hujan Deras Picu Sungai Meluap, Banjir Melanda Kabupaten Bogor Rendam 5 Kecamatan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam pemutakhiran data kejadian bencana dari Selasa hingga Rabu (22/4/2026) pagi, mencatat bahwa kejadian banjir akibat faktor hidrometeorologi ini mendominasi laporan bencana di tingkat nasional.

Tingginya curah hujan yang tak mampu ditampung oleh drainase dan badan sungai menjadi penyebab utama musibah hidrometeorologi ini.

Sebanyak dua kecamatan di Kabupaten Pasuruan dilaporkan terdampak langsung oleh luapan DAS Welang tersebut. Di wilayah Kecamatan Kraton, genangan banjir menerjang permukiman warga yang tersebar di Desa Sidogiri, Desa Klampisrejo, dan Desa Tambakrejo. Sementara itu, di Kecamatan Pohjentrek, luapan air sungai merendam kawasan permukiman di Desa Sukorejo.

Berdasarkan proses pendataan awal yang dilakukan di lapangan, tercatat sebanyak 1.320 unit rumah warga tergenang air keruh. Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan langsung diterjunkan ke titik-titik terdampak guna melakukan asesmen, kaji cepat, serta mendata kerugian maupun kebutuhan darurat masyarakat. Hingga Rabu (22/4/2026), bencana banjir di Pasuruan dilaporkan belum sepenuhnya surut, di mana genangan air masih merendam rumah-rumah warga dengan variasi ketinggian muka air mulai dari 10 hingga 60 sentimeter.

Menyikapi tingginya frekuensi musibah hidrometeorologi di musim peralihan ini, BNPB tidak henti-hentinya mengingatkan warga mengenai potensi cuaca ekstrem yang masih mengintai. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis prakiraan yang menyebut sebagian besar wilayah Indonesia berisiko mengalami hujan lebat pada periode 22 hingga 24 April 2026.

BNPB secara tegas mengimbau jajaran pemerintah daerah dan elemen masyarakat untuk bergotong royong meningkatkan kesiapsiagaan darurat. Langkah pencegahan mendasar yang perlu dilakukan antara lain menjaga kebersihan saluran drainase, memantau kondisi cuaca, serta menyiapkan tas siaga bencana. Pemerintah kabupaten/kota juga didorong meninjau ulang kelengkapan peralatan dan kesiagaan personel darurat agar proses evakuasi maupun distribusi logistik kepada para korban terdampak dapat berjalan efektif.

(*Red)