Psikologi Sosial: Kenapa Menghadapi Orang Bebal Jauh Lebih Melelahkan Daripada Orang Jahat?

"Pernahkah Anda merasa sangat kehabisan energi saat berdebat dengan orang yang keras kepala? Inilah alasan psikologis mengapa menghadapi orang bebal jauh lebih sulit daripada orang jahat."
Pernahkah Anda merasa sangat kehabisan energi saat berdebat dengan orang yang keras kepala? Inilah alasan psikologis mengapa menghadapi orang bebal jauh lebih sulit daripada orang jahat. (Dok. Ist)

Namun, orang bebal memiliki dinding pertahanan berupa penyangkalan (denial).

Mereka lebih suka mempercayai teori yang tidak masuk akal atau asumsi pribadi asalkan itu mendukung ego mereka.

Berbicara dengan mereka sering kali diibaratkan seperti bermain catur dengan burung merpati; tidak peduli seberapa jago Anda, merpati itu hanya akan mengacak-acak bidak dan terbang seolah ia menang.

4. Sering Berujung pada Playing Victim

Ketika orang bebal mulai kehabisan argumen yang tidak rasional, senjata terakhir mereka biasanya adalah playing victim (berlagak sebagai korban).

Mereka akan memutarbalikkan fakta seolah-olah Anda yang menyerang atau merendahkan mereka. Alih-alih mendapatkan titik temu, Anda justru akan dituduh sebagai pihak yang arogan atau tidak punya empati.

5. Menguras Energi Mental (Burnout)

Berinteraksi terlalu lama dengan orang yang menolak untuk menggunakan akal sehatnya hanya akan menguras energi mental Anda secara drastis.

Rasa frustrasi karena pesan yang tidak pernah tersampaikan dapat memicu stres, tekanan darah tinggi, hingga burnout emosional.

Cara Terbaik Menghadapinya

Kunci utama saat menghadapi orang bebal adalah: jangan berdebat.

Simpan energi Anda.

Pahami bahwa Anda tidak memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki pola pikir semua orang di dunia ini.

Cukup berikan batasan tegas (boundaries), tersenyum, dan tinggalkan perdebatan yang tidak ada gunanya tersebut demi menjaga warasnya pikiran Anda.

Baca Juga: Jangan Asal Resign! Pastikan Dulu: Kantornya yang Toxic atau Kamu yang Punya “Victim Mentality”?

(Mira)