Jangan Asal Resign! Pastikan Dulu: Kantornya yang Toxic atau Kamu yang Punya “Victim Mentality”?

"Yakin ingin resign karena kantor toxic? Tunggu dulu. Kenali tanda-tanda victim mentality dalam diri sendiri sebelum menyesal mengambil keputusan. "
Yakin ingin resign karena kantor toxic? Tunggu dulu. Kenali tanda-tanda victim mentality dalam diri sendiri sebelum menyesal mengambil keputusan. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Belakangan ini, istilah toxic workplace (lingkungan kerja beracun) sering menjadi kambing hitam populer saat seseorang merasa tidak nyaman bekerja.

Sedikit tekanan, dibilang toxic.

Ditegur atasan, dibilang toxic.

Solusi instan yang sering diambil adalah: resign.

Baca Juga: Drama Tumbler KRL Berujung ‘Plot Twist’: Petugas Batal Dipecat, Justru Pelapor yang Kehilangan Pekerjaan

Namun, pernahkah Anda bertanya secara jujur pada diri sendiri: “Apakah benar kantor saya yang bermasalah, atau jangan-jangan saya yang bermasalah?”

Sebelum Anda mengajukan surat pengunduran diri, penting untuk memahami perbedaan antara lingkungan yang benar-benar buruk dengan apa yang disebut psikologi sebagai Victim Mentality (Mental Korban).

Salah mendiagnosis masalah ini bisa membuat pola yang sama terulang di kantor baru Anda nantinya.

Apa Itu Victim Mentality di Tempat Kerja?

Victim mentality adalah pola pikir di mana seseorang merasa menjadi korban dari keadaan atau perilaku orang lain, menolak bertanggung jawab atas situasi yang dihadapi, dan merasa tidak berdaya untuk mengubahnya.

Orang dengan mentalitas ini cenderung melihat segala sesuatu dari kacamata negatif dan merasa dunia (atau kantor) berkonspirasi melawannya.

Berikut adalah tanda-tandanya:

1. Anti-Kritik dan Selalu Merasa Diserang

Di lingkungan toxic, kritik disampaikan dengan cara menghina atau merendahkan personal.

Namun, jika atasan memberikan masukan konstruktif tentang kinerja Anda secara sopan, tapi Anda menanggapinya sebagai “serangan pribadi” atau merasa dibenci, itu adalah sinyal mental korban.

Anda sulit membedakan antara feedback profesional dengan sentimen pribadi.

2. Selalu Menyalahkan Faktor Eksternal

Target tidak tercapai? “Pasarnya lagi sepi.” Laporan telat? “Teman tim saya lambat.” Datang terlambat? “Macetnya parah.”

Jika Anda selalu punya alasan untuk setiap kesalahan dan tidak pernah berkata, “Maaf, ini kesalahan saya, saya akan perbaiki,” maka Anda sedang memelihara mental korban.

Anda menolak melihat peran Anda sendiri dalam sebuah kegagalan.

Penulis: Mira