3. Fokus pada Masalah, Bukan Solusi
Di kantor yang toxic, solusi seringkali ditolak mentah-mentah.
Namun, pemilik mental korban bahkan tidak mau mencari solusi.
Mereka lebih suka menghabiskan waktu mengeluh di pantry atau grup WhatsApp tentang betapa buruknya sistem, tanpa pernah menawarkan ide perbaikan.
Mengeluh memberikan kepuasan semu bahwa “saya benar, mereka salah.”
4. Merasa Paling Menderita
Anda merasa beban kerja Anda paling berat sedunia, padahal rekan kerja lain juga lembur.
Anda merasa paling tidak diapresiasi, padahal Anda juga jarang mengapresiasi orang lain.
Perasaan “dunia tidak adil pada saya” ini menutup mata Anda dari realita bahwa setiap pekerjaan pasti memiliki tantangannya sendiri.
5. Mengapa Introspeksi Itu Penting?
Jika masalahnya benar-benar ada pada lingkungan kerja (pelecehan, gaji tidak dibayar, manajemen korup), maka resign adalah langkah tepat untuk menyelamatkan diri.
Namun, jika masalah utamanya adalah victim mentality, maka resign tidak akan menyelesaikan masalah.
Anda hanya akan membawa “racun” itu ke tempat kerja yang baru.
Di kantor baru pun, Anda akan kembali menemukan “bos yang galak” atau “teman yang tidak asyik” karena mindset Andalah yang memproyeksikan hal tersebut.
Mengundurkan diri adalah keputusan besar.
Sebelum menekan tombol send pada email resign Anda, cobalah bercermin.
Jika ternyata ada bibit-bibit mental korban dalam diri, perbaikilah pola pikir itu terlebih dahulu.
Terkadang, mengubah cara pandang jauh lebih efektif daripada mengubah tempat kerja.
Baca Juga: Merasa Tersesat di Usia 20-an? Kenali 6 Tanda Kamu Sedang Mengalami Quarter Life Crisis
(Mira)















