“Kebutuhan listriknya sendiri 932 MW, perkiraan kami kapasitas hitungan saat ini internally terpasang itu 1,2 Giga Watt, karena harus ada satu standby unit untuk memastikan availability 100% selama 360 hari per tahun,” ungkap Melati dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Kamis (20/11/2025).
Melati menegaskan bahwa gangguan pasokan listrik menjadi tantangan terbesar dalam pengoperasian smelter. Jika terjadi pemadaman, proses produksi aluminium tidak dapat dipulihkan dengan mudah.
Lebih lanjut, Melati menyebutkan bahwa pembangunan pembangkit listrik untuk proyek SGAR Fase 2 tidak masuk dalam rencana belanja modal atau capital expenditure (capex) Inalum.
Oleh karena itu, perusahaan bergantung pada pasokan listrik dari (Perusahaan Listrik Negara) PLN atau Independent Power Producer (IPP).
“Karena kami sangat ingin pembangunan pembangkit itu bisa menjadi captive source untuk smelter kita,” ujarnya.
Proyek smelter di Mempawah menjadi salah satu proyek strategis Inalum di Kalimantan Barat.
Kepastian pasokan listrik dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan industri pengolahan mineral sekaligus mendukung pengembangan hilirisasi aluminium nasional.
(*Sari)
















