Jokowi Respons Isu Mark Up Whoosh: Ini Layanan Publik, Bukan Cari Laba

Ilustrasi - Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers mengenai isu mark up dan kerugian Kereta Cepat Whoosh di Solo. (Dok. Instagram/@jokowi)
Ilustrasi - Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers mengenai isu mark up dan kerugian Kereta Cepat Whoosh di Solo. (Dok. Instagram/@jokowi)

Baca Juga: Bela Jokowi, Budi Arie Sebut Utang Woosh Bukan Beban Negara: Itu Investasi!

“Ini, jadi kita harus tahu masalahnya dulu, ya. Di Jakarta itu kemacetannya sudah parah. Ini sudah sejak 30 tahun, 40 tahun yang lalu, 20 tahun yang lalu dan Jabodetabek juga kemacetannya parah,” kata Jokowi di kawasan Kota Barat, Solo.

Ia menaksir kemacetan parah tersebut dapat merugikan negara hingga di atas Rp 100 triliun per tahun.

“Kalau di Jakarta saja kira-kira [rugi] Rp65 triliun per tahun. Kalau Jabodetabek plus Bandung kira-kira sudah di atas Rp100 triliun per tahun,” ucap dia.

Atas dasar itu, Jokowi menyebut diperlukan moda transportasi massal seperti kereta cepat, MRT, LRT, dan KRL untuk mengurangi kerugian tersebut.

“Dan prinsip dasar transportasi massal, transportasi umum itu adalah layanan publik. Ini kita juga harus ngerti bukan mencari laba,” sambungnya.

Jokowi berpandangan, transportasi umum tidak bisa dilihat dari laba saja, melainkan juga dari keuntungan sosial (social return), seperti pengurangan emisi karbon, peningkatan produktivitas masyarakat, dan berkurangnya polusi.

“Jadi, sekali lagi, kalau ada subsidi itu adalah investasi, bukan kerugian. kayak MRT. Itu pemerintah provinsi DKI Jakarta mensubsidi Rp800 miliar per tahun,” tutur dia.

Baca Juga: Ralat di KTT ASEAN, TV Nasional Malaysia Keliru Sebut Prabowo Sebagai Jokowi

Saat ditanya apakah pernah memprediksi kerugian Whoosh, Jokowi tidak menjawab lugas. Namun, ia mengaku memprediksi Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (Ebitda) akan semakin positif seiring peningkatan jumlah penumpang.

“Kayak Whoosh itu sudah 19.000 [penumpang per hari] dan sudah mencapai penumpang sampai 12 juta penumpang. Itu kalau setiap tahun naik, naik, naik orang berpindah, ya kerugiannya akan semakin mengecil,” kata dia.

Proyek Whoosh diketahui memiliki nilai investasi US$7,2 miliar (sekitar Rp116,54 triliun), membengkak dari tawaran awal China sebesar US$6,07 miliar.

Sebelumnya, mantan Menko Polhukam Mahfud MD dalam video di kanal YouTube pribadinya (14/10/2025), mengungkapkan adanya dugaan tindak pidana korupsi dalam bentuk penggelembungan anggaran di proyek Whoosh.

“Menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per satu kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar Amerika Serikat. Akan tetapi, di China sendiri, hitungannya 17-18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat,” katanya.

(ra)