Executive Director Asian Disaster Preparedness Center (ADPC), Aslam Perwaiz, menyatakan bahwa sejak diperkenalkan oleh Indonesia pada 2022, konsep ini telah menjadi komponen utama dalam program ADPC.
“Kita harus belajar dari wilayah lain dan memastikan tata kelola tetap menjadi tulang punggung resiliensi bencana,” ujar Aslam.
Menggeser Pembiayaan dari Reaktif ke Inovatif
Pada pilar pembiayaan, Raditya Jati menekankan pentingnya pergeseran dari pendanaan reaktif pascabencana menuju investasi pada pencegahan.
Baca Juga: BNPB: Kolaborasi Antar Pihak Jadi Kunci Kesiapsiagaan Hadapi Bencana
Ia mendorong instrumen pembiayaan inovatif seperti pooling fund dan insentif bagi sektor swasta untuk mengurangi risiko bencana.
“Tidak ada yang lebih merusak keberlanjutan daripada bencana. Kita tidak dapat mencapai pembangunan jika bencana sedang terjadi. Tantangannya adalah bagaimana kita dapat beralih dari menghabiskan triliunan dolar untuk pembangunan kembali menjadi berinvestasi dalam pencegahan dan resiliensi,” tegas Raditya.
Kepemimpinan Lokal sebagai Garda Terdepan
Panel terakhir menyoroti peran vital komunitas lokal sebagai garda terdepan. Pengalaman dari Indonesia, Filipina, Kamboja, dan Myanmar menunjukkan bahwa lokalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Aktor lokal dianggap memiliki pemahaman kontekstual yang lebih kuat untuk menghubungkan kebijakan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Baca Juga: BNPB: Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Kesiapsiagaan Hadapi Bencana
Sesi ini menegaskan bahwa komitmen untuk mewujudkan resiliensi berkelanjutan di kawasan adalah agenda bersama yang membutuhkan aksi kolaboratif di semua tingkatan.
(*Red)
















