Faktakalbar.id, PONTIANAK – Rektor IAIN Pontianak Syarif menegaskan pentingnya peran akademisi dalam menyikapi isu-isu krusial, seperti krisis kemanusiaan di Palestina. Menurutnya, konferensi seperti Konferensi Antar Bangsa Islam Borneo (KAIB) menjadi wadah bagi para akademisi untuk menyampaikan pemikiran dan hasil riset mereka.
“Kalau di KAIB khususkan memang kita mengeksploitasi pemikiran supaya para akademisi di kampus-kampus ini punya peran nyata walaupun itu sebatas teori ataupun opini. Contoh tentang krisis kemanusiaan tentang Palestina, dosen punya hak karena legitimasi kampus kuat,” tutur Syarif.
Syarif juga menanggapi pertanyaan terkait akademisi yang bungkam terhadap isu-isu sosial. Ia menekankan bahwa setiap akademisi memiliki kewajiban untuk menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu mendidik, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat.
“Akademisi yang punya tiga tujuan, yakni mendidik, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat, Tridarma Perguruan Tinggi, baik di swasta maupun negeri, dia punya kewajiban itu. Dosen, para peneliti semua harus tersampaikan,” katanya.
Baca Juga: IAIN Pontianak Gelar Konferensi Internasional, Bahas Isu Lingkungan dan Krisis Kemanusiaan
“Kalau ada yang seperti itu berarti dia akademisi yang tidak ideal, mungkin tidak punya karakter yang idealis. Tapi itu pun hak mereka, kita tidak bisa menjudge mereka walaupun hak itu menggambarkan tanggung jawab yang kurang,” imbuhnya
Syarif berharap, para akademisi dapat lebih aktif dan agresif dalam mencari teori, riset, serta mempublikasikan hasilnya. Ia menekankan bahwa seorang akademisi harus memiliki daya organisasi untuk mengelola program dan memberikan solusi nyata melalui kegiatan seperti konferensi.
















