“Kami tiap hari melihat airnya sangat keruh. Warga terus mengeluh, tapi seperti tidak ada jalan keluar. Dulu sempat berhenti, tapi beberapa bulan terakhir mereka kembali menambang seperti biasa. Seolah tak ada yang bisa menghentikan mereka,” ungkap BS.
Dampak PETI tak hanya mencemari sungai, tapi juga mengganggu kesehatan warga. Anak-anak dan orang dewasa mulai mengeluhkan gatal-gatal, penyakit kulit, hingga diare.
Warga menduga para pelaku PETI memiliki jejaring kuat hingga bisa lolos dari razia dan penindakan.
Ironisnya, saat warga butuh kehadiran aparat di lapangan untuk memberantas tambang ilegal, yang tampak justru foto-foto silaturahmi aparat bersama korporasi di tengah ladang jagung.
Masyarakat pun berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum bersikap lebih tegas dan hadir di tengah persoalan utama yang dihadapi rakyat, bukan hanya dalam program yang penuh seremonial.
(fd)















