Sementara Sydney Elizebeth Agudong yang memerankan Nani berhasil menunjukkan sisi tangguh dan lembut sebagai kakak sulung yang bertanggung jawab.
Duo Zach Galifianakis sebagai Dr. Jumba Jookiba dan Billy Magnussen sebagai Agen Pleakley juga menghadirkan warna komedi yang segar dalam cerita.
Kehadiran mereka menghidupkan kembali nuansa slapstick khas animasi lama dengan cara yang menyenangkan.
Secara teknis, film ini juga layak mendapat pujian. Desain produksi, efek visual, dan tata suara ditata dengan baik, menjadikan Stitch tampil begitu hidup dan ekspresif.
Sosok alien kecil ini dibuat sangat detail hingga bisa membuat penonton merasa gemas dan ingin memeluknya seperti boneka.
Lilo & Stitch (2025) berhasil menjadi film keluarga yang hangat, menyenangkan, dan menyegarkan. Di tengah banyaknya remake yang dianggap gagal, film ini menunjukkan bahwa kisah lama bisa disampaikan kembali dengan cara baru tanpa kehilangan pesona aslinya.
Film ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuatan utama Disney adalah menyampaikan kisah-kisah yang humanis, magis, dan menyentuh, bukan sekadar menyisipkan pesan sosial yang berat.
Lilo & Stitch (2025) membawa kembali esensi itu, dan mungkin jadi pertanda arah baru yang lebih tepat bagi proyek remake Disney ke depan.
(Rdl)
















