Nasional  

Banjir di Jakarta Rendam Ribuan Rumah Imbas Hujan Deras Senin Malam

Petugas dari BPBD DKI Jakarta melakukan pemantauan kondisi air yang merendam permukiman di sejumlah lokasi yang terdampak banjir, pada Selasa (5/5). (Dok. BPBD DKI Jakarta)
Petugas dari BPBD DKI Jakarta melakukan pemantauan kondisi air yang merendam permukiman di sejumlah lokasi yang terdampak banjir, pada Selasa (5/5). (Dok. BPBD DKI Jakarta)

Faktakalbar.id, JAKARTA – Hujan dengan intensitas tinggi memicu terjadinya banjir di Jakarta pada Senin (4/5/2026) malam sekitar pukul 19.10 WIB. Genangan air merendam wilayah permukiman penduduk yang tersebar di 28 kelurahan dalam cakupan 12 kecamatan di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan dampak yang cukup masif akibat luapan air tersebut. Berdasarkan hasil pendataan awal, tercatat sebanyak 1.582 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 4.755 jiwa secara langsung terdampak genangan. Selain itu, lebih dari 1.582 unit rumah warga dilaporkan ikut terendam air dengan tingkat ketinggian yang cukup bervariasi.

Baca Juga: Banjir di Kota Tangerang Rendam Permukiman Warga Cipondoh, Puluhan KK Mengungsi

Merespons tingginya angka terdampak banjir di Jakarta, tim gabungan BPBD segera turun tangan melakukan berbagai langkah penanganan darurat di lapangan. Petugas melaksanakan proses kaji cepat untuk mendata kebutuhan mendesak para korban, sekaligus mengintensifkan koordinasi lintas sektoral dengan instansi terkait guna mempercepat surutnya genangan di area permukiman.

Upaya penanggulangan yang dilakukan otoritas terkait mulai membuahkan hasil positif. Memasuki hari Selasa (5/5/2026), debit air yang sebelumnya merendam sebagian besar kawasan dilaporkan telah berangsur surut. Warga pun mulai membersihkan material lumpur dan sisa genangan di area tempat tinggal masing-masing.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa luapan air di ibu kota ini merupakan representasi dari dominasi ancaman hidrometeorologi basah di Indonesia. Memasuki periode peralihan musim pancaroba, wilayah perkotaan padat penduduk menjadi sangat rentan. Hal ini diperparah oleh curah hujan ekstrem yang tidak sebanding dengan kapasitas beban sistem drainase yang ada.