Bikin Ngakak di Tengah Deadline, Ini Alasan Orang dengan Beban Kerja Berat Justru Punya Selera Humor Tinggi

"Bukannya stres, pekerja yang sibuk justru sering bercanda. Simak 5 alasan psikologis kenapa orang dengan beban kerja berat punya selera humor yang tinggi."
Bukannya stres, pekerja yang sibuk justru sering bercanda. Simak 5 alasan psikologis kenapa orang dengan beban kerja berat punya selera humor yang tinggi. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Jika Anda berjalan melewati sebuah divisi di kantor yang sedang dikejar deadline gila-gilaan, Anda mungkin tidak menemukan suasana hening dan tegang.

Sebaliknya, Anda justru sering mendengar gelak tawa keras atau celetukan-celetukan nyeleneh dari para pekerjanya.

Secara logika, tekanan yang tinggi seharusnya membuat orang menjadi kaku dan stres.

Namun pada kenyataannya, banyak orang dengan beban kerja yang teramat berat justru memiliki selera humor yang sangat tinggi, tajam, dan terkadang sedikit absurd.

Baca Juga: Sering Blank Saat Stres? Ini Alasan Kenapa Saat Tertekan Manusia Menjadi Bingung Harus Ngapain

Kenapa hal paradoks ini bisa terjadi? Dari sudut pandang psikologis, selera humor di tengah tekanan bukanlah tanda kurangnya profesionalisme, melainkan respons alami otak untuk bertahan hidup.

Berikut adalah 5 alasan mengapa pekerja yang paling sibuk sering kali menjadi orang yang paling lucu di ruangan:

1. Humor Sebagai Coping Mechanism (Mekanisme Pertahanan Diri)

Saat tumpukan tugas seolah ingin menelan Anda hidup-hidup, otak akan merespons stres dengan memproduksi hormon kortisol.

Untuk mencegah tubuh mengalami kerusakan akibat stres berlebih, otak secara otomatis mencari penawar.

Tertawa adalah cara paling cepat dan murah untuk memicu pelepasan endorfin (hormon kebahagiaan) yang berfungsi menetralkan kortisol.

Humor menjadi coping mechanism andalan agar kewarasan tetap terjaga.

2. Lahirnya Dark Humor Sebagai Validasi Perasaan

Pekerja yang kelelahan sering kali mengembangkan selera humor yang spesifik, yaitu dark humor (humor gelap) atau gallows humor.

Menertawakan “penderitaan” akibat gaji yang tak seberapa atau revisi atasan yang tiada henti adalah cara mereka memvalidasi realita yang menyebalkan.

Alih-alih meratapi nasib secara tragis, mengubahnya menjadi lelucon satir membuat situasi yang berat terasa lebih ringan dan mudah diterima.

3. Memperkuat Bonding Lewat Kesamaan Nasib

Tidak ada yang menyatukan orang lebih cepat selain penderitaan yang sama.

Beban kerja yang berat sering kali melahirkan inside joke atau lelucon internal yang hanya dipahami oleh rekan satu tim.

Saling melempar candaan (banter) di tengah situasi krisis akan menciptakan bonding atau ikatan emosional yang sangat kuat.

Tawa bersama ini menumbuhkan rasa solidaritas, memberi pesan tersirat bahwa “kita semua ada di kapal yang sama.”

4. Menciptakan Ilusi Kendali

Ketika Anda tidak memiliki kendali atas berapa banyak tugas yang dilemparkan atasan, Anda akan merasa tidak berdaya.

Namun, Anda memiliki kendali penuh atas bagaimana Anda bereaksi terhadap situasi tersebut.

Dengan membuat lelucon dari masalah yang ada, seseorang sebenarnya sedang melakukan reframing (pembingkaian ulang) situasi.

Humor mengembalikan perasaan memegang kendali atas emosi mereka sendiri.

5. Emotional Release (Pelepasan Emosi) yang Aman

Di lingkungan profesional, menangis tersedu-sedu atau melempar barang ke dinding saat stres tentu bukan tindakan yang bisa diterima.

Tawa menjadi saluran pembuangan emosi (emotional release) yang paling aman dan dapat diterima secara sosial.

Terkadang, tawa keras di meja kerja hanyalah bentuk lain dari rasa frustrasi yang sudah memuncak, namun diekspresikan dengan cara yang positif agar tidak mengganggu suasana kerja.

Jadi, jika Anda melihat rekan kerja Anda sering melontarkan candaan konyol di saat pekerjaan sedang menumpuk, jangan buru-buru menilainya tidak serius.

Bisa jadi, itu adalah cara terbaiknya untuk menjaga mental agar tidak berujung pada burnout.

Baca Juga: Kerja Sambil Skripsian? Ini 5 Tips Ampuh Menjaga Kewarasan Agar Tidak Burnout

(Mira)