Isu-isu substansial seperti RUU yang merugikan rakyat atau kerusakan lingkungan sering kali tenggelam oleh berita remeh-temeh yang viral.
Masyarakat dibuat sibuk “war tiket” konser atau berdebat soal kehidupan artis, sementara kebijakan publik yang krusial disahkan dalam sunyi.
Kesimpulan: Sebuah Peringatan, Bukan Manual
Membaca 1984 di Indonesia saat ini memberikan sensasi deja vu yang meresahkan.
Namun, perlu diingat bahwa Orwell menulis buku ini sebagai sebuah peringatan, bukan buku panduan manual.
Kesamaan konflik di dalam buku dengan realita Indonesia menunjukkan bahwa demokrasi adalah sesuatu yang rapuh.
Ia harus dijaga dengan literasi yang kuat, kebebasan pers yang sehat, dan keberanian warga sipil untuk terus berkata: “Dua ditambah dua sama dengan empat,” meskipun kekuasaan bersikeras hasilnya adalah lima.
(*Mira)
















