Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kebiasaan menghangatkan makanan berulang kali sering dianggap praktis dan hemat, terutama untuk lauk pauk yang tidak langsung habis.
Namun, praktik ini ternyata menyimpan risiko serius bagi kesehatan. Jika dilakukan dengan cara yang salah atau pada jenis makanan tertentu, kebiasaan ini berpotensi memicu keracunan makanan hingga paparan zat berbahaya.
Dosen Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, mengingatkan bahwa tidak semua makanan dapat dihangatkan kembali.
“Pada dasarnya, semua makanan yang dimasak dengan benar bisa dipanaskan kembali. Tetapi ada beberapa kategori makanan yang sebaiknya dihindari untuk dipanaskan ulang karena mengandung senyawa tertentu atau berisiko terkontaminasi bakteri,” terang Karina.
Ancaman kontaminasi pangan meningkat saat menghangatkan makanan berulang kali. Beberapa bahan makanan seperti sayuran hijau, nasi, ayam, dan telur dapat menimbulkan masalah kesehatan. Risiko ini akan meningkat tajam jika suhu yang digunakan untuk memanaskan tidak tepat.
Baca Juga: Hindari! Ini 5 Makanan Tidak Boleh Dicampur Nasi, Bisa Ganggu Pencernaan dan Bikin Kembung`
Risiko Kesehatan Makanan yang Dihangatkan Berulang
Menurut penjelasan Dr. Karina, berikut adalah bahan makanan yang perlu diwaspadai karena berpotensi memicu masalah kesehatan jika dipanaskan ulang:
- Sayuran Hijau Tinggi Nitrat: Sayuran seperti bayam, kale, seledri, lobak, dan wortel mengandung nitrat tinggi. Jika dipanaskan berulang kali, nitrat dapat berubah menjadi nitrit, lalu berkembang menjadi nitrosamin. Senyawa ini bersifat karsinogenik (pemicu kanker). Sebaiknya sayuran ini dikonsumsi segera setelah dimasak.
- Nasi Dingin: Nasi yang didiamkan pada suhu ruang rentan ditumbuhi bakteri Bacillus cereus. Bakteri ini mampu bertahan pada suhu tinggi.
“Nasi yang sudah dingin pun dapat menjadi media berkembangnya Bacillus cereus bila dipanaskan ulang,” ujar Karina. Racunnya bisa tetap ada meski sudah dipanaskan kembali. Dampaknya adalah keracunan makanan dengan gejala mual, muntah, atau diare. - Ayam dan Telur: Kedua bahan pangan ini rentan menyimpan bakteri Salmonella jika dimasak atau dipanaskan kurang benar.
Pemanasan ulang yang tidak mencapai suhu inti cukup tinggi berisiko membuat bakteri tetap hidup, memicu infeksi saluran pencernaan. - Daging Olahan: Sosis, nugget, atau ham sering mengandung pengawet. Pemanasan berulang dapat mengubah zat pengawet menjadi karsinogenik.
“Begitu juga dengan daging olahan yang berpotensi menghasilkan zat karsinogenik dari bahan pengawetnya,” terang Karina. Risiko meningkat jika pemanasan terlalu lama. - Makanan Buffet atau Take Away: Hidangan ini sering tidak jelas waktu masak dan cara penyimpanannya.
“Makanan buffet atau take away juga perlu diwaspadai karena tidak jelas kapan dimasak dan apakah memenuhi standar keamanan pangan,” ujarnya.
Memanaskannya tanpa standar suhu tepat memperbesar risiko pertumbuhan bakteri.
Tips Aman Memanaskan Makanan yang Perlu Anda Ketahui
Baca Juga: Keracunan Makanan? Kenali Gejala dan Lakukan 5 Pertolongan Pertama Ini
Karina memaparkan beberapa cara penting untuk mengamankan makanan sisa. Inilah tips aman memanaskan makanan dan penyimpanannya:
- Pastikan Suhu Inti Mencapai Minimal:
- selama 2 menit.
- selama 30 detik.
- selama 6 detik.
- Pastikan Panas Merata: Panas harus mencapai bagian dalam makanan, bukan hanya permukaan.
- Makanan Berkuah: Sebaiknya direbus hingga mendidih.
- Makanan Tanpa Kuah: Panaskan dengan cara dikukus, ditumis, dipanggang, atau gunakan microwave, oven, maupun air fryer.
- Penyimpanan Sisa Makanan: Simpan dalam wadah tertutup rapat. Masukkan ke chiller (maksimal 3-4 hari) atau freezer (maksimal 3-4 bulan).
- Hindari Membekukan Kembali: Jangan membekukan makanan yang sudah dicairkan (thawing).
Karina menekankan bahwa suhu harus sangat diperhatikan. Bakteri dapat berkembang biak cepat di antara suhu sampai .





















