Menurutnya, video tersebut dibuat dalam suasana internal partai dan tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapa pun.
“Dan mengenai sound horeg saat saya sedang DJ itu pun dibuat seolah-olah saya tidak sensitif terhadap permasalahan yang ada, padahal itu dalam acara pembubaran panitia 17 Agustusan, setelah kerja mereka mempersiapkan acara hampir satu bulan,” ungkap Eko, Senin (25/8/2025).
Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PAN ini juga menjelaskan momen joget yang menjadi viral saat Sidang Tahunan MPR.
Baca Juga: Polisi Kerahkan 1.250 Personel Amankan Aksi di DPR/MPR Senayan
Ia menegaskan bahwa aksi tersebut terjadi secara spontan setelah seluruh rangkaian acara resmi selesai dan bukan saat sidang berlangsung.
Polemik ini bermula ketika kritik joget Eko Patrio dan sejumlah anggota dewan lainnya menyebar luas di media sosial.
“Jadi, momen yang beredar itu terjadi bukan saat sidang berlangsung, melainkan setelah Presiden Prabowo selesai menyampaikan pidato RAPBN 2026 dan Nota Keuangan. Pada saat penutupan acara, ada sesi hiburan orkestra dari Symphony Praditya Wiratama Universitas Pertahanan, yang membawakan lagu-lagu daerah seperti Sajojo dan Gemu Fa Mi Re,” kata Eko.
Menurutnya, aksi spontan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap para musisi muda yang tampil memukau di penutupan acara kenegaraan itu.
“Lagu-lagu itu memang dimainkan untuk menutup acara, dan kami sebagai anggota DPR spontan ikut bernyanyi dan bergoyang menikmati suasananya. Saya sendiri melihat itu sebagai cara untuk mengapresiasi penampilan anak-anak muda dari Unhan yang tampil dengan sangat baik,” ujarnya.
Sebelumnya, video sejumlah anggota dewan yang berjoget di Sidang Tahunan MPR pada Jumat (15/8) lalu menuai sorotan tajam dari masyarakat.
Baca Juga: Logika Janggal Tunjangan Rumah DPR dari Adies Kadir Tuai Kritik Pedas Warganet
Banyak pihak mengkritik tindakan tersebut dan mengaitkannya dengan kinerja serta besaran gaji dan tunjangan yang diterima oleh para wakil rakyat.
(*Red)
















