Kepala BNPB Tinjau Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-Laki

 

Bencana yang sudah terjadi beberapa hari lalu, dijadikan pengalaman berharga untuk masyarakat agar mentaati instruksi pihak-pihak yang berwenang dan bagi pemerintah untuk lakukan langkah-langkah meningkatkan kesiapsiagaan.

 

“Saat ini kenapa masyarakat masih ada yang tinggal dalam radius di bawah 7 kilometer, karena terakhir erupsi tahun 2002 sehingga mungkin masyarakat menganggap dalam waktu 20 tahun tidak ada apa-apa, namun terjadi kali ini. Ini menjadi catatan agar masyarakat untuk tidak bisa lagi tinggal di bawah radius 7 kilometer,” ujarnya.

 

“BNPB dan PVMBG Badan Geologi akan membawa ahli memetakan bagaimana kondisi gunung sekarang ini. Kemudian memasang _early warning system_ sebagaimana yang kita lakukan di Gunung Marapi Sumatra Barat dan Gunung Ibu Halmahera Barat. Paling tidak dengan adanya alat yang lebih canggih peringatan kepada masyarakat lebih baik,” lanjutnya.

 

Meskipun nantinya dipasangkan alat peringatan dini, Suharyanto berpesan bahwa sehebat apapun alatnya, belum ada yang bisa memprediksi secara tepat kapan letusan akan terjadi.

 

“Yang harus dijadikan catatan, manusia tetap berusaha tapi terkait saat tepat sebuah gunung bisa meletus tidak bisa diprediksi,” pungkasnya.

 

Kegiatan yang dilakukan di Posko Pemantauan antara lain melihat kondisi seismograf aktivitas Gunung Lewetobi Laki-Laki dn melihat secara langsung kondisi puncak gunung dari Pos Pemantauan.

 

*Kunjungi Korban Rawat Inap

Setelah mengunjungi Pos Pemantuan, Kepala BNPB meneruskan kegiatannya dengan melihat korban erupsi Gunung Lewetobi Laki-Laki yang masih di rawat di RSUD. Henrikus Fernandez Larantuka.

 

Para korban yang masih dirawat berjumlah lima orang dengan kondisi yang bervariasi, luka berat 1 orang dan 4 orang lainnya luka sedang.

 

“Meninjau pasien yang masih dirawat, per hari ini ada 5 orang. Rata-rata kondisinya sudah baik sadar semua, kecuali ada 1 yang luka berat harus diamputasi. Khusus yg kakinya diamputasi, BNPB akan memberikan kaki palsu, dan membantu obat-obatan,” jelas Suharyanto.

 

“Dari BNPB menambah dan memastikan penanganan kesehatan korban bencana betul-betul dapat terlaksana dengan baik,” tutup Suharyanto.(rfk/*pusdatin bnpb)