“Pesan utama yang kami bawa adalah ‘Ecological Before Tourism’. Fungsi ekologis dan kelestarian biodiversitas harus didahulukan sebelum kita berbicara mengenai pengembangan pariwisata. Ekowisata harus menjadi alat untuk memperkuat konservasi, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Guna merealisasikan target tersebut, Indonesia secara terbuka mengajak komunitas internasional, lembaga donor, serta sektor swasta global untuk terlibat dalam skema pembiayaan baru ini.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya mencakup aspek pendanaan, tetapi juga menyentuh sisi teknis pengelolaan.
“Kami mengundang kemitraan global untuk memperkuat pendanaan dan transfer teknologi dalam pengelolaan taman nasional. Dengan kolaborasi internasional, kita dapat memastikan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia terjaga demi keseimbangan ekosistem global,” pungkas Raja Juli.
Baca Juga: Kemenhut Ungkap 3,32 Juta Hektare Hutan RI Disulap Jadi Kebun Sawit Ilegal





















