Masuk Empat Besar Negara Paling Rawan, Kepala BNPB Soroti Tingginya Risiko Bencana di Indonesia

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto, saat memberikan arahan kepada para Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se-Indonesia dalam agenda Senior Disaster Management Training (SDMT) di Aula Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB, Jakarta, Senin (11/5). (Dok. HO/Faktakalbar)
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto, saat memberikan arahan kepada para Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se-Indonesia dalam agenda Senior Disaster Management Training (SDMT) di Aula Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB, Jakarta, Senin (11/5). (Dok. HO/Faktakalbar)

Baca Juga: Robot Kecoa hingga MPASI Darurat: BNPB Gandeng Undip Perkuat Teknologi Kebencanaan

Seluruh elemen bangsa dituntut untuk terus berbenah dalam meningkatkan kemampuan mitigasi dan penanggulangan risiko bencana di Indonesia secara menyeluruh.

Suharyanto secara khusus menekankan pentingnya kapasitas para pemimpin penanggulangan bencana di level daerah untuk mampu membaca situasi krisis secara cepat.

“Hampir tidak ada wilayah di Indonesia yang betul-betul aman; Kalimantan memang cenderung lebih aman dari gempa bumi dan tsunami menurut data, tapi ingat, di sana karhutla selalu menjadi ancaman setiap tahun,” kata Suharyanto.

Penguatan sistem mitigasi dan kesiapsiagaan dini harus segera direalisasikan sebagai langkah utama untuk mengurangi risiko fatalitas saat bencana terjadi.

Program penguatan mitigasi daerah ini sangat sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan tata negara yang tangguh terhadap bencana.

Suharyanto menegaskan bahwa agenda penanggulangan bencana kini telah resmi ditetapkan menjadi bagian integral dari program prioritas strategis pemerintah pusat.

Belajar dari pengalaman berbagai kejadian masa lalu dinilai sangat krusial agar proses penanganan krisis di masa depan dapat berjalan jauh lebih efektif.

Pemahaman masyarakat akan sistem manajemen peringatan dini dan tanda bahaya juga harus terus diperkuat melalui sosialisasi rutin tanpa henti.

Masyarakat di kawasan rawan harus benar-benar dilatih agar mengetahui langkah evakuasi mandiri yang tepat untuk mencegah jatuhnya korban jiwa fatal.

(*Red)