“Kasus ini mencerminkan tekanan yang terus meningkat terhadap habitat satwa liar, akibat landskap yang terfragmentasi,” ujar Silverius.
Ia menegaskan, jika induknya berhasil ditemukan, Jani akan segera direunifikasi dan dipindahkan ke lokasi aman.
Namun, jika tidak, Jani harus menjalani proses rehabilitasi panjang hingga siap dilepasliarkan.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, memberikan apresiasi atas respon cepat berbagai pihak.
Ia menekankan pentingnya edukasi publik mengingat tingginya tekanan terhadap ekosistem orangutan.
“Apresiasi kepada semua pihak yang bekerjasama dalam penyelamatan anak orangutan betina ‘Jani’. Di usia 5 tahun, Jani seharusnya masih bersama induknya. Namun setelah berapa hari dipantau sampai dengan penyelamatan, Jani terlihat sendiri. Kondisi Jani ini merupakan dampak dari tingginya tekanan terhadap habitat orangutan,” tutur Murlan.
Murlan menutup dengan himbauan, “Salah satu hal penting yang harus kita tingkatkan bersama adalah edukasi dan penyadartahuan kepada semua pihak untuk bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati orangutan dan habitatnya serta satwa liar lainnya.”
(fr)
















